Temanmu Tumbuh

Sebuah Tulisan yang Ingin Menemanimu Tumbuh dan Berbahagia.

  • Home
    • Version 1
  • Opini
  • Social
  • Features
    • Komunitas
    • Bercerita
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us


Semakin hari, tepatnya setelah melewati masa nganggur setahun, aku jadi manusia pemikir saat mau memposting segala sesuatu di sosial media. Khususnya whatsapp story, karena aku sering jadi penulis dadakan disana. Haha.


"Ini penting nggak, ya?"

"For what? Urgensinya apa ya?"

"Over sharing ngga ya? Apa ini harusnya keep private aja?"

"Sebenernya aku lagi nyari validasi siapa, ya?"

"Ada orang yang ngerasa sedih, iri atau ngerasa rendah diri ngga ya kalau aku posting ini?"

Refleksi setahun nganggur, menjadikan aku manusia yang mikir kayak gini perkara mau unggah stori.

Meskipun benar membagikan apapun disosial media selama bisa dipertanggung jawabkan adalah hak kita, tapi perkara stori ini, salah satu bahan refleksiku.

Dimasa nyari kerjaan itu, aku selalu ngerasa rendah diri. Tiap ngeliat pencapaian orang lain melalui unggahan di sosial media, bertambah pula rasa rendah diriku. Bukan iri, tapi lebih ke ... "ya ampun, dia udah ada disana, aku kok masih disini dan gini-gini aja". 

You know if you know.

Bahkan setahun ke belakang, aku banyak hide story kontak whatsapp hanya karena aku nggak mau makin ngerasa rendah diri.

It feels empty. Aku tidak benar - benar tau bagaimana mendeskripsikannya. Tapi itu benar benar jenis perasaan yang bahkan kita sendiri tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.

Sejak itu, setiap kali mau sharing selalu mikir berkali - kali. "Ada nggak ya orang lain yang ngerasa sedih, ngerasa makin rendah atau benci dirinya sendiri karena storyku?" Ya, kayak yang aku rasain dulu.

Pada akhirnya, aku memilih sedikit membatasi unggahanku di sosial media. Meskipun tidak sepenuhnya, tapi aku hanya tidak ingin membuat bunga yang di musim hujan seharusnya bisa mekar indah menjadi semakin layu saat kemarau. 

Hari ini aku sudah melalui masa nganggur setahun itu, ya meskipun pekerjaan baru saat ini masih kulalui dengan gedebak - gedebuk karena belajar dari nol. Tapi apapun, aku bersyukur pekerjaan ini aku dapatkan setelah refleksi yang panjang.

Siapapun kamu, semoga kamu segera tumbuh dan mekar kembali ya. Apapun yang kamu rasakan, semoga hari - hari baik menjadi sahabatmu. ✨

 


Ini bukan seperti kehidupan yang saya rencanakan. Semua menyimpang  terlalu jauh. Padahal belasan tahun lalu, saat masih di sekolah menengah, saya sudah seringkali menuliskan hal yang sama perihal hal hal yang ingin saya capai dan wujudkan dalam hidup.

Saya sungguh bingung, lantas saya harus apa? Pada usia yang 25++ saya masih terlihat seperti remahan rengginang di kaleng khong guan. Padahal dulu percaya diri sekali menulis success under 30. Haha.

 Lantas saya harus bagaimana?  Mengapa tidak ada yang memberi tahu saya bahwa impian – impian yang saya tulis bisa saja gagal dan berjalan tidak sesuai rencana. Begitu bodoh dan naifnya saya dulu. Sialnya, saya baru menyadari hari ini. Menyebalkan sekali!

Dalam kepala saya, kesuksesan adalah saya lulus kuliah tepat waktu dengan nilai memuaskan. Oh, ternyata saya lulus terlambat dan nilai saya tidak bagus bagus amat. Poor me!

Setelah lulus kuliah, karena saya ada dalam bidang pendidikan, tentu saja saya ingin segera mengajar. Hamdalah, sudah terealisasi sebelum lulus kuliah. Setelah bekerja beberapa tahun, tentu saja saya ingin segera mendapat predikat PNS itu. Sebuah predikat yang katanya, bisa membanggakan hati seluruh orangtua.

But hey! Look at me, bahkan perhari ini saya sudah menjadi pengangguran hampir selama setengah tahun. Haha, sial sekali.

Orang – orang dewasa disekitar saya dulu mengapa tidak ada yang mengoreksi impian – impian yang saya tulis, ya? Ralat, lebih tepatnya tidak ada yang memberi tahu bahwa bisa saja dalam perjalanan mewujudkan impian – impian itu jalannya tidak selalu mulus. Weeyo, kenapa? 

Oya, apakah saya terlalu mendikte kehidupan? Atau saya terlalu saklek untuk mewujudkan hal yang benar – benar sama seperti yang saya rencanakan dari belasan tahun silam?

Pada akhirnya persetan dengan impian – impian itu. Saya harus hidup dan butuh makan. Saya memperoleh ilham untuk menuliskan sedikit kelebihan yang saya punya; menulis dan desain. Saya juga mencoba menggali kemungkinan – kemungkinan yang bisa saya jadikan sumber penghasilan.

Ya, saya harus tetap makan dan hidup. Kata Ae Sun dalam drama When Life Gives You Tangerins: ada yang lebih memalukan daripada meminta pertolongan, yakni tidur dengan perut berbunyi. 

Ya, ada hal yang lebih penting daripada hidup saklek mengikuti impian; bertahan hidup.

Saya membuka pintu itu sendiri. Pintu kesempatan yang sebelumnya tidak saya akui sebagai dream life saya. Jika memang rezeki saya bukan berprofesi menjadi guru dengan titel pe en es, barangkali ada kesuksesan lain yang sedang menunggu saya.

Hidup tidak berhenti disini. Ada banyak jalan menuju roma.

 



“Mimpi itu tidak pernah mati. Ia hanya pingsan, kemudian bangun lagi ketika kamu sudah tua dalam bentuk penyesalan” – Pandji Pragiwaksono

            Malam-malam terakhir sebelum menulis ini, saya banyak dibangunkan pada masa – masa paling ‘mekar’, sejauh saya melalui hidup. Tapi anehnya, mekar yang berputar – putar di kepala saya adalah memori – memori heroik penuh perjuangan. Seperti saat saya sibuk ngurusin organisasi, wallahi, itu adalah bentuk berjuang versi saya yang jika diingat masih sering membuat saya menangis. Itu adalah kisah pertama saya, berbagi ‘nyawa’ paling tulus yang pernah saya lakukan; tidak ada hal lain yang memotivasi saya saat itu, selain saya ingin adik – adik saya bisa terus tumbuh.

            Saya masih ingat berbagi percakapan dengan rekan seperskripsian saya saat sedang menunggu dosen pembimbing, “Ngerjain skripsi seberat ini. Setelah lulus, saya nggak mau jadi orang biasa saja. Kita harus jadi orang hebat. Kita harus jadi apa – apa,” 

Begitulah hal yang saya ucapkan pada seorang rekan. Perjuangan mengerjakan skripsi bagi saya dulu adalah ujian panjang yang tidak pernah tahu kapan akan selesai. Mengerjakan hingga jam dua pagi, bahkan tidur menjelang subuh sudah sering saya lakoni. Karena sebelum pukul tujuh harus menghadap dosen pembimbing, lalu pukul tujuh pula harus sampai di sekolah untuk mengajar. Semua saya lakukan. Dulu terasa begitu melelahkan perjuangan itu, namun hari ini saya merindukan. Merindukan apa yang disebut perjuangan.


            Saya rindu pontang panting mengurus komunitas. Merindukan teman – teman berjuang yang begitu hebat membantu di komunitas. Semoga Allah, menyiapkan hal hal baik untuk hidup kalian semua. Tidak ada yang membayar kami, pun barangkali tidak ada yang menyadari keberadaan kami. Tapi hari – hari yang panjang ini membawa sepucuk rindu. Rindu membangun impian dan kebermanfaatan. Merindukan juang yang dulu ku anggap sakit dan melelahkan.

            Setelah perjalanan panjang itu, saya sempat berjanji untuk berlaku sedikit realistis. Setidak-tidaknya, seminimal-minimalnya jika memang harus berjuang, berjuang untuk diri saya sendiri saja. Berjuang untuk mendapatkan uang. Bekerja dengan giat, lalu mendapat gaji untuk membeli beras atau hadiah sarong untuk Bapak. Tidak perlu aneh-aneh, tidak perlu neko-neko. 

   Tapi begitulah mimpi, kata Pandji Pragiwaksono. Ia tidak pernah mati, ia hanya pingsan kemudian bangun lagi dalam bentuk penyesalan. Mimpi saya itu, yang sudah lama pingsan, hari ini bangun lagi. Benar sekali kata Pandji, bangunnya dalam bentuk penyesalan. 

        Saya menyesali, telah berlaku kriminal; membungkam, meracun, bahkan memukul mimpi – mimpi. Tapi benar, mimpi itu hanya pingsan. Ia tidak mati. Buktinya, sekonyong-konyong hari ini, mimpi itu datang hari ini. Membenturkan kepala saya ke tembok hingga berdarah – darah. 

Ketika menulis ini, saya berjanji untuk membiarkan mimpi - mimpi saya tetap merdeka. Membawa ruh saya bebas menemui apa yang sebelumnya saya anggap kehidupan yang 'urup' dan 'ngurupi'.

Semoga saya senatiasa punya keberanian sepanjang hari untuk hidup bersama – sama mimpi saya. Menggengamnya, mengajaknya berjalan – jalan dan menunjukkannya pada orang – orang; inilah mimpi yang sempat diracun dan dipaksa mati itu. 

            Saya akan menuliskannya lagi, mimpi itu tidak pernah mati. Ia hanya pingsan, kemudian bangun lagi ketika kamu sudah tua dalam bentuk penyesalan. 

            Mulai hari ini berjanjilah untuk tidak jahat lagi terhadap mimpi – mimpi di atas kepalamu. Mimpi – mimpi itu tidak akan mati meski kau racun, tidak akan menghilang seperti poci saat dibacakan ayat kursi. Ia hanya pingsan. Sesekali menemuimu dalam ingatan, tapi kau racun kembali, begitu seterusnya. Hingga kamu tua, dan mereka meracunimu satu demi satu. Kita menyebutnya penyesalan.


"Semua orang punya perasaan takut; hanya orang berani yang meletakkan rasa takutnya dan terus maju, terkadang menuju kematian, tetapi selalu menuju kemenangan" 

— aku tidak tau quote ini milik siapa :')

           

  




Setiap orang yang kita temui meninggalkan jejak di diri kita, pun begitu sebaliknya. Kita juga meninggalkan jejak di diri mereka ✨🌻

Saya sudah amat sering mendengar nasihat bijak ini, tapi saya tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai sesuatu yang penting. Kemudian tepatnya pada usia saya 23 tahun, disaat saya merasa hidup saya ‘mekar’ disaat itulah saya menyadari bahwa hidup ini tidak jauh-jauh dengan ‘saling mewarnai’. Hitam, biru atau merah jambu.

Perihal saling mewarnai, saya pikir dulu harus berupa hal-hal besar dan penuh perjuangan. Tapi kian hari, saya kian menyadari, ternyata tidak seperti itu adanya. Seperti, saya masih ingat sekali bagaimana perasaan saya ketika tiba-tiba menerima sepucuk surat berupa ucapan terima kasih karena sering membagikan tulisan distory whatsapp. Saya tidak pernah menyangka tulisan – tulisan saya distory whatsapp pernah menjadi alasan seseorang menjadi kuat. For real, saya tidak pernah menyangka mendapat surat semacam itu.


Saya sering mendapat moment seperti itu, momen dimana ternyata tulisan saya memberi warna pada orang lain. Ya, ternyata untuk ada hal – hal kecil yang keberadaanya tanpa kita sadari mampu menjadi jejak – jejak pada hidup orang lain.


Lalu, pada tahun 2020, saya mendapat pesan suara dari seorang dosen melalui Anchor. Anchor adalah sebuah aplikasi untuk membuat podcast. Begini bunyi pesan suara itu;


“Halo May Sarah. Wah, saya senang sekali akhirnya kamu punya podcast yang bagus sekali. Ceritanya menginspirasi, mendengar, sesuatu yang tak terdengar. Well, saya akan ingin tambahkan bahwa ketika kita diam kita akan mendengarkan suara batin kita. Wah, endingnya kalau gitu keren banget.


By the way, good job girl. Bagus sekali. Terus, terus, terus, bikiiin terus. Karena membaca dan menulis itu membuat kamu pintar. Maka ini kita berada di era yang berbeda. Kita menulis dalam bentuk oral, kita menulis dan kita mensharingkan kepada orang, jadi audiensnya lebih luas. Good job, oke. Saya menunggu podcast yang kedua”


Ini barangkali pesan apresiasi biasa yang dilakukan seorang dosen kepada mahasiswanya. Tapi, ini adalah pesan suara yang saya bawa dalam langkah dan lari. Pesan yang akan terus saya ingat; untuk senantiasa menulis dan membaca. Pesan suara itu sangat berarti bagi saya.


For the last, kita ini bisa memilih dan memutuskan menjadi orang yang seperti apa. Senyum yang kita berikan, perkataan yang kita pilih, perilaku yang kita tunjukkan, semua memberikan jejak. Setidaknya, seminimal-minimalnya jika kita tidak mampu menjadi air yang menguap di langit, kemudian menjadi hujan yang memberi manfaat, kita tidak menjadi petir dan gelegar untuk kehidupan orang lain.


Aku ingin menjadi bunga matahari,

Yang kuat dan tegak

Tidak peduli panas duniaku

Aku memutuskan tetap indah.


Lampung, Februari 2025.










Tulisan - tulisan di blog ini, barangkali nanti akan dibaca oleh anak perempuanku, beberapa muridku, atau akan dibaca oleh diriku sendiri pada waktu yang berbeda.


Siapapun yang akan membacanya nanti, aku ingin tulisan - tulisan ini menjadi arah menuju tempat pulang yang indah. Tulisan yang barangkali nanti akan membawa kita pada apa - apa saja yang hati kita inginkan. 

—

Kita sudah menempuh perjalanan jauh. Banyak kelokan, menemui debu, lubang, kerikil dan batu. Tapi, setelah ini pun kita tetap harus berjalan. Bagaimana pun, jalan panjang kita semoga menyenangkan, ya? Beralas awan, berpayung Tuhan yang baik. Seperti dua bait lagu Nadin Amizah yang ajaib paling aku (kita) sukai itu.


Bagaimana pun jalan yang kita pilih hari ini, semoga kita sama - sama menikmatinya. Bagaimana pun awal mulanya, mari kita lapangkan dada untuk mencari - cari pada tiap sudut pembelajarannya.


Apapun perjalanan yang sudah kita pilih, semoga kita selalu tidak punya waktu untuk menyesali. Kita harus cari bahagianya di kolong - kolong, di balik lemari, bi bawah rak sepatu atau di belakang pintu yang setiap hari kita lewati. Seharusnya ada diantara itu semua. Semoga kita berlapang-lapang mencarinya. Lalu berdansa dan bergembira ria karena menemukannya.


Kita beralas awan, berpayung pada Tuhan yang baik, kan?


"Tuhan Maha Baik, terima kasih untuk payungnya, ya. Badainya hebat, tapi aku percaya semua akan kembali tenang dan mereda. Tuhanku Yang Baik, terima kasih senatiasa memayangi


Untuk anak perempuanku kelak:

Nak, hidup itu membahagiakan, jika kita mempercayai payung Tuhan. Ya, semoga perjalanan panjang kita menyenangkan.


 Would you like you if you met you?

Sebuah pertanyaan yang sering aku tanyakan pada diriku sendiri kala sendirian dan kesepian. Katanya, kita harus benar – benar merubah persepsi kita terhadap diri kita sendiri. Karena kalau kita sendiri tidak menyukainya, siapa yang mau? Tapi izinkanlah malam ini aku mengakuinya, setidaknya agar aku berkaca bahwa masih banyak hal yang harus aku rubah dalam hidup ini.


Aku berantakan.

Entahlah, bisa dimaknai secara literal atau non literal. Tapi aku merasa demikian. Aku masih sering mengingkari janji – janji yang aku buat untuk diriku sendiri. Janji untuk bangun pagi, tidak boros atau tidak menangis. Janji yang aku buat, dan janji yang aku ingkari. Manajemen waktuku nol besar, apalagi manajemen keuanganku. Aku berantakan dalam mengelola emosi, aku berantakan mengatur perasaanku sendiri. Bahkan yang sederhana, perihal kamarku saja, kau akan lebih sering melihatnya berantakan daripada terlihat rapi.

Tapi izinlanlah aku untuk berubah, berbenah waktu demi waktu tanpa merasa lelah. Setidaknya setelah menulis ini, izinkanlah aku untuk bangun tepat waktu untuk solat subuh, membaca Quran meski tertatih-tatih, atau bersamailah keinginan untuk selalu punya ingin dan usaha menghapalkan surah al-waqiah, al-mulk dan ar-rahman.

Hari ini aku begitu berantakan. Bahkan mandi saja, lebih sering aku lakukan malam. Aku mengingkari janji – janji untuk tidak membuang waktu dengan sia-sia dan hina, tapi sepanjang siang aku hanya menonton Netflix atau entah apa yang aku lihat di social media.

Aku begitu berantakan hari ini. Aku belum cukup ‘rapi’ untuk dibawa dalam langkah dan lari, jadi, would you like this girl if you met her? Untuk tidak jatuh cinta denganku, aku memaklumi. Karena sungguh, aku seberantakan itu. Tapi setelah menulis ini, izinkanlah aku berubah. Beri kesempatan tanpa lelah, untuk aku belajar sekali lagi, lagi, dan tanpa henti. Esok biarkan aku bangun subuh, bersujud dengan penuh penyesalan bahwa sudah banyak waktu yang aku sia-siakan. Esok, biarkan aku menemui mimpi – mimpiku lagi. Terakhir, beri aku sedikit rasa iba, setidaknya untuk diriku sendiri; untuk mempelajari bahwa kemarin dan hari ini tidak selalu sama. Apa yang aku lewati tidak akan terulang. Apa yang sudah aku tinggalkan, tidak dapat aku jemput untuk kubawa pulang. Kesempatan yang aku buang, barangkali akan begitu malas untuk kembali datang.

Nanti, ketika hari – hari yang tidak tertebak membawaku kembali kesini, atau kau sampai pada tulisan ini karena merasa jatuh hati, semoga aku tidak lagi dalam keadaan berantakan.

Aku tidak cantik

Tidak ada yang pernah menganggapku cantik, dan kalaupun pernah  ku  dengar , aku tidak pernah mempercayainya. Karena, ya memang demikian. Aku tidak cantik, entah hatiku atau parasku. Untuk banyak hal, aku masih saja sering berbohong. Menebar benci atau menatap iri. Tidak ada alasan, karena apapun alasannya, sesuatu yang menyakiti orang lain tidak pernah terlihat cantik sama sekali.

Tapi untuk banyak hal, sekali lagi, izinlan aku terus belajar. Aku ingin juga menjadi cantik karena menerima dengan apa adanya perihal yang ditakdirkan semesta.  Aku juga ingin menjadi cantik karena penerimaan bahwa tidak apa – apa untuk tidak selalu baik-baik saja. Aku juga ingin menjadi cantik karean turut gembira atas apa – apa yang menjadi suka dan bahagia dar orang lain. Aku juga ingin menjadi cantik  karena ‘maaf’, ‘terima kasih’ dan ‘tolong’. Mulai malam ini, izinkan aku terlahir kembali untuk menjadi cantik.

Kemudian esok, aku izinkan aku bangun dengan wajah berseri dan  hati yang cantik. Bibirku menjadi penuh senyuman dan  hanya hal – hal indah dan kebaikan yang aku suarakan. Aku ingin melihat di cermin, mataku menjadi samudra keinginan-keinginan untuk selalu belajar. Jadi lain waktu ketika aku kembali membaca ini atau kamu sudah sempat menjumpaiku, semoga aku sudah menjadi cantik. Cantik sekali!

Aku tidak kaya.

Banyak sekali aku mengoceh untuk selalu punya uang, setidaknya, seminimal-minimalnya adalah dua milyar. Tapi banyak juga waktu disaat-saat sendirian, aku bertanya pada diriku sendiri, “apakah sebenarnya hal itu yang sangat aku inginkan? Kekayaan?

Kemudian hatiku  tidak pernah mengatakan ‘ya’ tapi juga tidak pernah mengatakan ‘tidak’. Itu seperti aku dihadapkan pada sebuah misi yang harus aku cari jawabanya sendiri.

“Bukankah aku ingin rumah?

“Bukankah menyenangkan jika aku bisa membeli apa saja yang aku  mau?

“Betapa membanggakan jika aku mampu mewujudkan apa yang orangtuaku pinta?

Beberapa pertanyaan yang sering muncul dikepalaku, dan terkadang aku pun ikut mendukungnya: ya pasti menyenangkan punya kekayaan. Tapi setelahnya aku berpikir, punya rumah, membeli apa saja, perasaan bangga, bukankah itu hanya sebuah rasa patuh terhadap ekspetasi yang diharapkan oranglain terhadapku. Apakah aku benar benar akan bahagia jika sudah mendapatkan semuanya? Kebahagiaan seperti apa yang akan aku rasakan?

Tapi, yang paling aku percayai dari kehidupanku ini adalah hatiku. Hatiku tidak pernah berbisik, meskipun lirih sekali, bahwa yang aku inginkan adalah kekayaan. Yang aku tahu, hatiku selalu jatuh cinta dengan hal – hal jauh dari hingar bingar dan kata kaya; jatuh cinta dengan semua hal yang dilakukan relawan, mimpi menjadi relawan bencana, mendaftar untuk mengabdi sebagai pengajar di pedalaman, tersenyum untuk orangtua dan pedagang-pedagang di trotoar, mengajari anak kecil, atau menulis pesan – pesan kecil agar banyak orang menjadi lebih hidup karena mempercayai bahwa masih selalu ada harapan. Hatiku selalu jatuh cinta dengan hal-hal seperti itu. Hati tidak mennjawabku tapi ia memberiku petunjuk-petunjuk. Jadi, aku benar-benar tidak kaya bahkan aku juga memiliki hutang. Setelah semua ini, would you like me if you met me?

Catatan Jawaban:

Perihal aku yang berantakan, aku menyadari satu hal setelah menulis sepanjang ini; bahwa berantakan adalah sesuatu yang bisa aku rubah. Yang justru menjadi pertanyaan adalah, apakah aku mau merubah diriku sendiri yang sudah terlanjur malang ini? Sedangkan kemalangan itu disebabkan oleh diriku sendiri.

Kelak ketika aku tua semoga tidak ada penyesalan karena pertanyaan; mengapa dulu tidak aku lakukan ini, mengapa dulu tidak aku lakukan itu. Mengapa aku tidak berusaha lebih? Mengapa aku tidak penuh semangat. Mengapa aku tidak melakukannya dengan maksimal? Mengapa aku membuang-buang waktu? Semoga kelak kamu aku tidak  dipenuhi penyesalan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

 

Tulang Bawang Barat, 2024.

Tulisan yang pernah aku post di akun Tumblr. 
March 22th, 2022.


Ini semangkuk kebaikan kesekian, yang dibawakan oleh Bu Regina, ibu dari murid privatku. Tapi hari ini ceritanya agak beda, bukan kubawa sendiri setelah pulang mengajar, tapi beliau antarkan sendiri ke kosanku malam malam.

Jujur saja, kadang aku merasa bingung atas kebaikan orang lain yang diberikan kepadaku.  Bukan, bukan aku tidak bersyukur atau tidak menyukainya. Tapi terkadang aku bertanya-tanya, kebaikan seperti apa yang sudah aku lakukan hingga aku dibalas kebaikan melimpah seperti ini?

Aku merasa tidak pernah sebaik ini dengan orang lain. Aku merasa tidak pernah menolong orang lain dengan sangat, tapi kenapa aku selalu dipertemukan dengan orang - orang baik?

Dan satu satunya telinga yang siap kubagi segala tumpah ruah dikepalaku adalah Ibu.

"Buk, kenapa ya, Sarah selalu ketemu sama orang orang baik? Sarah bingung, kok bisa ya." Tanyaku pada Ibu suatu hari lewat telepon.

Mungkin Ibu heran dengan pertanyaanku, beliau hanya menyimak semua yang berasal dari kepalaku. Setelah aku bercerita banyak hal perihal kebingunganku atas kebaikan orang lain, giliran Ibu menanggapi ceritaku.

 "Karena Sarah anak baik. Makanya, Sarah ketemu orang orang baik. Doa Ibu disini juga sama. Ibu selalu berharap, biar Sarah selalu ditempatkan ditempat baik dengan orang orang yang baik,"

Itu benar benar jawaban diluar ekspetasiku. Jawaban yang tidak pernah ada sama sekali dikepalaku. Bukan, bukan karena Ibu mengatakan aku anak baik.  Bukankah itu penilaian relatif dari seorang ibu kepada anaknya, kan? Yah, ibu mana sih, yang tidak menganggap anaknya baik.

"Ibu juga sama, berharap, Sarah selalu ditempatkan ditempat baik dengan orang orang yang baik," Itulah kalimat yang berhasil mengubah sudut pandangku. 

Detik selanjutnya aku menangis. Aku menangis karena sebesar ini, aku baru menyadari keberadaan doa Ibu. Aku terlalu sombong, menebak - nebak kebaikan ini dan itu hanya berporos pada kebaikan apa yang sudah aku lakukan. Aku lupa, bahwa doa Ibu, barangkali jauh lebih dekat dan lekat padaku.

Karena sejauh apapun aku pergi, doa ibu akan tetap ada. Kapanpun aku merasa kesulitan, doa Ibu menjelma menjadi banyak pertolongan - pertolongan.

Jadi semangkuk sup iga sapi ini adalah doa ibu yang mewujud makanan kesukaaanku. Kemudian, Bu Regina dan kebaikan kebaikannya adalah doa doa dan kebaikan Ibu yang telah terkumpul, dan membentuk suatu takdir. Takdir yang baik, yang menjumpakanku dengan orang orang baik.

***

Lampung Timur, January 18, 2024

Lagi-lagi Bu, aku berterima kasih pada doa-doamu. Bagaimana pun hidupku, asal doamu masih bersamaku, aku akan selalu baik baik saja.

Postingan Lama Beranda

POPULAR POSTS

  • Sebuah Refleksi
  • [Review Buku] Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan: Psikologi feminis untuk meretas patriarki
  • Review Buku: Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?
  • MIMPI
  • Semoga Jalan Panjang Kita Menyenangkan
  • Meninggalkan Jejak
  • Cerita Dibalik Layar, Menjadi Leader WCD 2021 Kota Metro: Ketakutan itu Untuk Dihadapi Bukan Dihindari
  • Rencana
  • Bagaimana Mengajar Hari Ini?
  • Pernikahan Dalam Kepalaku
Diberdayakan oleh Blogger.

Literasi

Sebuah Refleksi

Semakin hari, tepatnya setelah melewati masa nganggur setahun, aku jadi manusia pemikir saat mau memposting segala sesuatu di sosial media. ...

Cari Blog Ini

Copyright © Temanmu Tumbuh. Designed by OddThemes