MIMPI
“Mimpi itu tidak pernah mati. Ia hanya pingsan, kemudian bangun lagi ketika kamu sudah tua dalam bentuk penyesalan” – Pandji Pragiwaksono
Malam-malam terakhir sebelum menulis ini, saya banyak
dibangunkan pada masa – masa paling ‘mekar’, sejauh saya melalui hidup. Tapi
anehnya, mekar yang berputar – putar di kepala saya adalah memori – memori
heroik penuh perjuangan. Seperti saat saya sibuk ngurusin organisasi, wallahi, itu adalah bentuk berjuang
versi saya yang jika diingat masih sering membuat saya menangis. Itu adalah
kisah pertama saya, berbagi ‘nyawa’ paling tulus yang pernah saya lakukan;
tidak ada hal lain yang memotivasi saya saat itu, selain saya ingin adik – adik
saya bisa terus tumbuh.
Saya masih ingat berbagi percakapan dengan rekan seperskripsian saya saat sedang menunggu dosen pembimbing, “Ngerjain skripsi seberat ini. Setelah lulus, saya nggak mau jadi orang biasa saja. Kita harus jadi orang hebat. Kita harus jadi apa – apa,”
Begitulah
hal yang saya ucapkan pada seorang rekan. Perjuangan mengerjakan skripsi bagi saya dulu adalah ujian panjang yang
tidak pernah tahu kapan akan selesai. Mengerjakan hingga jam dua pagi, bahkan
tidur menjelang subuh sudah sering saya lakoni. Karena sebelum pukul tujuh harus menghadap dosen pembimbing, lalu pukul tujuh pula harus sampai di sekolah untuk mengajar. Semua saya lakukan.
Dulu terasa begitu melelahkan perjuangan itu, namun hari ini saya
merindukan. Merindukan apa yang disebut perjuangan.
Saya rindu pontang
panting mengurus komunitas. Merindukan teman – teman berjuang yang begitu
hebat membantu di komunitas. Semoga
Allah, menyiapkan hal hal baik untuk hidup kalian semua. Tidak ada yang
membayar kami, pun barangkali tidak ada yang menyadari keberadaan kami. Tapi
hari – hari yang panjang ini membawa sepucuk rindu. Rindu membangun impian dan
kebermanfaatan. Merindukan juang yang dulu ku anggap sakit dan melelahkan.
Setelah perjalanan panjang itu, saya sempat berjanji untuk berlaku sedikit realistis. Setidak-tidaknya, seminimal-minimalnya jika memang harus berjuang, berjuang untuk diri saya sendiri saja. Berjuang untuk mendapatkan uang. Bekerja dengan giat, lalu mendapat gaji untuk membeli beras atau hadiah sarong untuk Bapak. Tidak perlu aneh-aneh, tidak perlu neko-neko.
Tapi begitulah mimpi, kata Pandji Pragiwaksono. Ia tidak pernah mati, ia hanya pingsan kemudian bangun lagi dalam bentuk penyesalan. Mimpi saya itu, yang sudah lama pingsan, hari ini bangun lagi. Benar sekali kata Pandji, bangunnya dalam bentuk penyesalan.
Saya menyesali, telah berlaku kriminal; membungkam, meracun, bahkan memukul mimpi – mimpi. Tapi benar, mimpi itu hanya pingsan. Ia tidak mati. Buktinya, sekonyong-konyong hari ini, mimpi itu datang hari ini. Membenturkan kepala saya ke tembok hingga berdarah – darah.
Ketika menulis ini, saya berjanji untuk membiarkan mimpi - mimpi saya tetap merdeka. Membawa ruh saya bebas menemui apa yang sebelumnya saya anggap kehidupan yang 'urup' dan 'ngurupi'.
Semoga saya senatiasa punya keberanian sepanjang hari untuk hidup bersama – sama mimpi saya. Menggengamnya, mengajaknya berjalan – jalan dan menunjukkannya pada orang – orang; inilah mimpi yang sempat diracun dan dipaksa mati itu.
Saya akan menuliskannya lagi, mimpi itu tidak pernah mati. Ia hanya pingsan, kemudian bangun lagi ketika kamu sudah tua dalam bentuk penyesalan.
Mulai hari ini berjanjilah untuk tidak jahat lagi terhadap mimpi
– mimpi di atas kepalamu. Mimpi – mimpi itu tidak akan mati meski kau racun,
tidak akan menghilang seperti poci saat dibacakan ayat kursi. Ia hanya pingsan.
Sesekali menemuimu dalam ingatan, tapi kau racun kembali, begitu seterusnya.
Hingga kamu tua, dan mereka meracunimu satu demi satu. Kita menyebutnya
penyesalan.




0 comments