[Review Buku] Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan: Psikologi feminis untuk meretas patriarki
“Identitas manusia, khususnya perempuan bukanlah suatu identitas tunggal yakni untuk menjadi seorang ibu. Patricia W. Linville psikolog sosial dari Duku University menyatakan bahwa manusia yang sehat justru harus memiliki kompleksitas diri (self complexcity) bahwa manusia harus memiliki beragam peran untuk menunjukan identitas yang beragam. Keberagaman peran yang dimiliki perempuan akan menghindarkan dari kondisi stress berkepanjangan jika salah satu perannya tidak berfungsi. Itu akan membuat harga dirinya terkikis, seolah tidak lagi merasa berharga sebagai perempuan,”
“Perempuan tidak tertekan karena
kelajangannya, ia tertekan oleh pandangan dan perlakuan orang-orang sekitarnya
terkait dengan kelajangan itu,”
Pernahkah
kamu bertanya pada dirimu sendiri: Siapa itu perempuan? Bagaimana dan seperti
apa peran perempuan? Dalam buku ini kita dikenalkan lebih jauh tentang
perempuan, peran-perannya serta kesakitan-kesakitannya. Sebuah buku psikologi feminis untuk meretas patriarki.
BEBAN PEREMPUAN
Dalam
sub judul awal buku ini, Ester Lianawati, sang penulis lebih dulu membahas
menyoal apa dan bagaimana psikologi feminis. Mulai dari teori perkembangan
manusia yang dikemukakan oleh Erik Erikson, teori psikoanalisis Sigmund Freud
hingga konsep etika kepedulian yang dikembangkan oleh Carol Gilligan (1982).
Pada tahun 1905 Freud mengemukakan teorinya mengenai perkembangan seksual dalam
Three Essays on the Theory of Sexuality. Pada
masa itu dimana anak anak dianggap tidak berkelamin sehingga dianggap tidak
memilki hasrat seksual namun Freud berpendapat lain ia mengatakan bahwa
seksualitas manusia berkembang sejak ia dilahirkan. Saat lahir anak memiliki
energy seksual yang disebut libido. Hal tersebut akan mengenalkan kita dengan
apa yang disebut kompleks Oedipus. Dalam
buku ini juga dijelaskan mengenai teori Erik Erikson yang telah membuat
identitas perempuan menjadi homogen yakni sebatas menjadi istri dan ibu.
Berlanjut
pada bagian dimana masyarakat menetapkan
definisi perempuan, standar feminitas yang harus dipenuhi perempuan mulai dari karakter-karakter fisik dan psikologis. Seperti bagaiamana perempuan harus bersikap dan berprilaku serta ditampilkan. Yangmana hal tersebut, disadari atau tidak disadari menyebabkan perempuan berusaha mengikuti standar ini
untuk menjadi normal sesuai dengan standar kenormalan. Seperti untuk dianggap
feminin perempuan harus cantik dengan kriteria kecantikan yang lagi lagi
ditentukan oleh masyarakat. Terlebih lagi, media massa mengonstruksi kecantikan perempuan melalui
iklan produk kecantikan dengan model-model cantik yang tentu saja lagi dan lagi
mengikuti kriteria kecantikan masyarakat.
Banyak sekali standar
perempuan tidak realistis lainnya yang dibuat oleh masyarakat. Seperti dewasa ini, masyarakat mengharapkan
perempuan menjadi perempuan yang aktif
bukan hanya perempuan domestik. Karena jika tidak bekerja masyarakat akan
menganggapnya rendah karena hanya menjadi ibu rumah tangga. Jika bekerja pun, perempuan harus tetap bertanggung jawab terhadap tugas tugas domestik dan
keharmonisan keluarga. Yang seperti inilah yang dikatakan konsep ibu ideal hasil adopsi masyarakat patriarki. Dengan mengimingi
kompensasi bagi perempuan yang memenuhi kriteria tersebut sebagai supermom. Sebutan yang melambungkan hati
si ibu untuk melakukan peran sebagai istri, ibu, dan pekerja meski mengorbankan eksistensi
dirinya sendiri.
Selain
itu, dalam buku ini kita juga akan menjumpai fakta bagaimana
kasus kekerasan seksual oleh media massan kita masih sering ditulis dengan nada
patriarki. Kasus perkosaan terhadap perempuan sering ditulis dengan kata digagahi dan
direnggut kehormatannya. Seolah-olah perempuan yang telah diperkosa tidak lagi
terhormat dan laki-laki seolah-olah gagah sehingga memperkosa. Bahkan banyak
kasus kekerasan seksual yang tidak diungkap karena dianggap merusak nama baik
keluarga. Pemaknaan virginitas yang
berbeda antara yang diadopsi masyarakat luas dan pemaknaan virginitas secara
medis. Dari buku ini aku juga berkenalan dengan budaya suti dari India, yakni
proses pembakaran diri pada perempuan saat suaminya meninggal.
Ya,
lewat buku ini aku banyak melihat kesedihan-kesedihan yang mungkin hanya
perempuan itu sendiri yang dapat merasakannya. Dari buku ini aku melihat ada
banyak sekali “ketidak-sejahteraan” dan “ketidak-bahagiaan” perempuan hasil
dari lingkungan yang patriarki. Begitu banyak fakta-fakta tentang perempuan
yang barangkali oleh perempuan yang hidup dalam lingkungan patriarki menganggapnya sebagai “kodrat” yang mau tidak mau harus ia jalani. Sesuatu yang membuat
perempuan tidak berdaya, tidak punya pilihan dan tidak memiliki ruang.
Ada
banyak sekali pertanyaan yang menuntutku harus dipikirkan secara baik-baik
setelah membaca buku ini:
“Selain hal-hal biologis, apa yang menjadikanmu merasa bahwa kamu perempuan?”
“Bagaimana dengan
perempuan yang karena satu dan lain alasan tidak dapat melahirkan dan menjadi
ibu? Apakah ia akan kehilangan identitas dirinya jika keberfungsian perempuan
hanya sebatas reproduksi?”
“Kenapa laki-laki yang
menikahi janda dianggap telah menyelamatkan perempuan?”
“Tanyakan pada diri anda, jika tuntutan menikah itu tidak pernah ada dan jika tidak menikah itu tidak dianggap aneh apakah kamu akan tetap memilih menikah?”
PENERIMAAN DIRI
Beberapa penelitian menunjukan bahwa
kecantikan tidak membuat orang lantas jadi bahagia. Carol D. Ryff penggagas
teori kesejahteraan psikologis menjelaskan bahwa tiap orang sebenarnya dapat
menjadi sejahtera jika ia mampu: menerima diri, memiliki tujuan hidup,
mengembangkan relasi yang positif dengan
orang lain, menjadi pribadi yang mandiri, menguasai lingkungan, dan terus
bertumbuh secara personal.
Dalam
buku ini kita juga dikenalkan dengan istilah reinterpretation atau
penginterprestasian diri atau mengenali dan menemukan diri untuk sampai pada
penerimaan diri. Menurut Ryff
kesejahteraan menurutnya tidak ditentukan oleh seberapa menyenangkan
peristiwa-peristiwa yang dialami seseorang. Peristiwa negatif tidak serta merta
menawarkan ketidaksejahteraan.
Seperti korban KDRT atau perempuan
yang sulit meninggalkan kekasihnya yang sudah beristri, perlu bertanya pada
dirinya:
Apa yang ada dalam dirinya yang telah
membawanya pada pria-pria ini?
Apa yang ada dalam dirinya yang menarik pada pria-pria ini?
Tujuannya untuk mengenali ilusi-ilusinya, kenaifan-kenaifannya, disposisi psikis atau kepribadiannya yang telah mengantarkannya pada pengalaman ini. hal ini akan membantu perempuan keluar dari kekerasan, hubungan toxic dll. Reinterprestasi diri juga membantu perempuan untuk menciptakan diri yang baru, yang bebas dari kompleks-kompleks kecantikan, keperawanan, dan kompleks lain yang bersifat individual. Hal tersebut demi menjalin hubungan tanpa mengorbankan eksistensi diri dan tidak kehilangan cinta akan dirinya. Selanjutnya perempuan dapat mendekonstruksi atau merekontruksi feminitasnya sendiri tidak lagi mengikuti tuntutan ideal masyarakat. Ia mendefiniskan dirinya sendiri. Ia membebaskan diri dari yang dinamakan rasa takut untuk tidak menjadi normal (fear of not being normal).
Ada kalimat yang begitu aku sukai dari
buku ini perihal kecantikan: tidak ada salahnya dengan menjadi cantik asalkan
tidak terobsesi dan menjadi objek dari kecantikan itu sendiri. Sama seperti
tidak ada salahnya ketika kita tidak cantik. Perempuan dapat mendefinisikan
diri lebih luas dari sekedar penampilan fisik.
Ada lagi …
Jangan
bayangkan perempuan liar sebagai sosok yang mengerikan. Ia
adalah pribadi yang hangat dan autentik. Jujur terhadap diri sendiri dan orang
lain. Tidak berpura pura menikmati persahabatan hanya karena khawatir tidak
punya teman dan tidak takut akan penolakan sosial. Perempuan liar mampu beradaptasi dengan tetap menjadi diri sendiri. Ia menjalin persahabatan secara
tulus bukan untuk memenuhi kebutuhan diri dicintai atau dihargai. Ia sudah
bebas dari kompleks kompleks semacam ini.
Karena
mencintai dirinya sendiri ia punya identitasnya sendiri. ia tidak mengizikan
orang lain mengatakan apa yang harus ia lakukan. Ia tidak membiarkan masyarakat
menetapkan kriteria kecantikan, bahwa ia harus langsing dan putih untuk menjadi
cantik. Ia tidak dicengkram oleh tirani kecantikan. Perempuan liar paham bahwa
sebagai perempuan ia tidak berfungsi untuk menyenangkan orang lain dan apalagi
memuaskan tatapan orang lain. (Hlm 110)
Bagiku, buku
ini harus dibaca oleh masyarakat luas. Agar perempuan tidak lagi dilekatkan
dengan stigma-stigma yang merugikan. Agar semakin banyak perempuan yang
sejahtera dan bahagia.
Judul buku :
Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan
Penulis : Ester Lianawati
Tebal : 292 halaman
Penerbit : EA Books




0 comments