Meninggalkan Jejak




Setiap orang yang kita temui meninggalkan jejak di diri kita, pun begitu sebaliknya. Kita juga meninggalkan jejak di diri mereka ✨🌻

Saya sudah amat sering mendengar nasihat bijak ini, tapi saya tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai sesuatu yang penting. Kemudian tepatnya pada usia saya 23 tahun, disaat saya merasa hidup saya ‘mekar’ disaat itulah saya menyadari bahwa hidup ini tidak jauh-jauh dengan ‘saling mewarnai’. Hitam, biru atau merah jambu.

Perihal saling mewarnai, saya pikir dulu harus berupa hal-hal besar dan penuh perjuangan. Tapi kian hari, saya kian menyadari, ternyata tidak seperti itu adanya. Seperti, saya masih ingat sekali bagaimana perasaan saya ketika tiba-tiba menerima sepucuk surat berupa ucapan terima kasih karena sering membagikan tulisan distory whatsapp. Saya tidak pernah menyangka tulisan – tulisan saya distory whatsapp pernah menjadi alasan seseorang menjadi kuat. For real, saya tidak pernah menyangka mendapat surat semacam itu.


Saya sering mendapat moment seperti itu, momen dimana ternyata tulisan saya memberi warna pada orang lain. Ya, ternyata untuk ada hal – hal kecil yang keberadaanya tanpa kita sadari mampu menjadi jejak – jejak pada hidup orang lain.


Lalu, pada tahun 2020, saya mendapat pesan suara dari seorang dosen melalui Anchor. Anchor adalah sebuah aplikasi untuk membuat podcast. Begini bunyi pesan suara itu;


“Halo May Sarah. Wah, saya senang sekali akhirnya kamu punya podcast yang bagus sekali. Ceritanya menginspirasi, mendengar, sesuatu yang tak terdengar. Well, saya akan ingin tambahkan bahwa ketika kita diam kita akan mendengarkan suara batin kita. Wah, endingnya kalau gitu keren banget.


By the way, good job girl. Bagus sekali. Terus, terus, terus, bikiiin terus. Karena membaca dan menulis itu membuat kamu pintar. Maka ini kita berada di era yang berbeda. Kita menulis dalam bentuk oral, kita menulis dan kita mensharingkan kepada orang, jadi audiensnya lebih luas. Good job, oke. Saya menunggu podcast yang kedua”


Ini barangkali pesan apresiasi biasa yang dilakukan seorang dosen kepada mahasiswanya. Tapi, ini adalah pesan suara yang saya bawa dalam langkah dan lari. Pesan yang akan terus saya ingat; untuk senantiasa menulis dan membaca. Pesan suara itu sangat berarti bagi saya.


For the last, kita ini bisa memilih dan memutuskan menjadi orang yang seperti apa. Senyum yang kita berikan, perkataan yang kita pilih, perilaku yang kita tunjukkan, semua memberikan jejak. Setidaknya, seminimal-minimalnya jika kita tidak mampu menjadi air yang menguap di langit, kemudian menjadi hujan yang memberi manfaat, kita tidak menjadi petir dan gelegar untuk kehidupan orang lain.


Aku ingin menjadi bunga matahari,

Yang kuat dan tegak

Tidak peduli panas duniaku

Aku memutuskan tetap indah.


Lampung, Februari 2025.









0 comments