Bagaimana Mengajar Hari Ini?
Aku melihat dunia dan segala peristiwanya akhir-akhir ini, terasa semakin mengerikan. Pelecehan, pembullian, asusila dan hal-hal mengerikan lainnya. Dua fakta mengerikan akhir-akhir ini, yang nalarku pun nggak sampai untuk memikirkannya : Pertama kasus si Orang Utan "Pony" yang dijadikan budak seks di Kalimantan Tengah. Kedua, viralnya bocah SMP asal Cilacap yang menganiaya temannya.
Astaga. Capek banget kan, ya, melihat kelakuan manusia kayak gitu. Kadang jadi mikir, beneran nggak sih, aku tinggal di bumi yang isinya manusia. Beneran nggak sih, semua manusia dikasih akal? Soalnya kadang ngeliat kelakuan manusia nggak ada akal-akalnya sama sekali. Kayak, setan aja tuh, bakal insecure sama kelakuan manusia.
Lalu bagaimana denganku, dan peranku sebagai seorang guru hari ini?
Mendampingi belajar siswa menengah pertama menjadi hal yang menarik, sekaligus sedikit was-was. Karena pada usia ini, siswa mulai penasaran dengan hal-hal baru, mencari sosok role model yang 'keren' versi mereka, dan mulai memandang dunia dengan cara yang berbeda. Oh, satu lagi, mereka mulai aware dengan eksistensi mereka di sebuah kelompok. Diakui atau tidak. Diterima atau tidak. Menurutku validasi akan eksistensi mereka pada usia inilah, yang akan mereka bawa pada usia dewasa perihal bagaimana mereka memandang dunia dan memandang diri mereka sendiri.
Maka peran kecil, pertama dan sederhana yang bisa dilakukan guru di sekolah adalah mengakui eksistensi mereka. Mengakui bahwa keberadaan mereka penting dan berharga.
Peran kecil, pertama, dan sederhana yang dengan sengaja aku lakukan saat menjadi guru adalah mengingat wajah, menghapalkan nama atau menyebutkan nama mereka di kelas. Karena menurut psikologi, mengingat nama seseorang adalah bentuk mempengaruhi perasaan lawan bicara. Itu menjadi salah satu bentuk penghargaan kita terhadap eksistensinya. Itu, hal yang diajarkan oleh salah satu dosenku dan aku praktikan ketika mengajar hari ini.
Peran kecil apalagi yang bisa kita lakukan?
Peran kecil dan sederhana yang bisa kita lakukan adah memberikan disiplin positif (bukan hukuman) sesuai dengan kesalahan atau jenis pelanggaran yang siswa lakukan sesuai dengan amanat dalam Kurikulum Merdeka.
Peran kecil dan sederhana yang bisa kita lakukan adalah membiarkan mereka jatuh cinta dengan proses pembelajaran itu sendiri. Membiarkan mereka untuk bagaimana belajar 'mencintai proses belajar' itu sendiri. Jadi nanti dimanapun tempatnya, mereka akan selalu punya gairah seorang pembelajar. Tidak hanya belajar karena aku berada di sekolah.
Peran kecil dan sederhana yang bisa kita lakukan adalah meminta mereka untuk belajar menjadi manusia yang manusia. Manusia yang mampu memanusiakan manusia lain dan dirinya sendiri; Tidak merundung, tidak memandang rendah kapasitas diri.
Peran kecil dan sederhana yang bisa kita lakukan adalah menanyakan apakah mereka bahagia? Lalu mendengarkan cerita-cerita mereka yang seabrek itu. Bagiku, itu bagian dari hak mereka. Hak untuk didengarkan dan mendapatkan afeksi.
Tentu saja, dengan keterbatasan ilmu yang aku miliki dan seklumit pengalaman, aku hanya bisa menulisakan peran peran kecil dan seserhana. Semoga, kamu dan kalian memiliki kebesaran hati untuk mengajariku banyak hal tentang dunia anak-anak dan pendidikan.
Tapi bagaimanapun, aku selalu ingin menjadi bagian dari perjalanan mereka. Menjadi bagian yang mengingat dan mendengar hal apa saja, peristiwa-peristiwa menakjubkan apa saja yang mereka alami.
Nak, jika nanti kau temui dunia begitu keras dan kaku, semoga hadirmu mampu menjadi bagian dari yang melembutkan, ya.
Perihal sebuah pengharapan, biarkan aku mengutip tulisan Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum perihal doa-doa yang senantiasa beliau panjatkan untuk mahasiswanya:
Ya Allah, Engkaulah yang mampu menyehatkan raga mereka, yang mampu mencerdaskan otak mereka, dan yang mampu memperindah akhlak mereka. Dan, di atas segalanya, Engkau Maha Penyayang dan Maha Pengabul doa.
Bila waktu memihak, saya ingin menyaksikan kehebatan mereka. Bila ada umur, saya ingin diperkenankan melihat mereka melakukan apa yang tak pernah bisa saya lakukan. Dan bilamana waktu tak memihak atau umur ini tidak sampai, cukuplah bagi saya mereka mengetahui satu hal: bahwa saya pernah menaruh harapan besar untuk melihat mereka menjadi orang-orang kuat, cerdas, dan mencintai Tuhan-Nya.
.png)

0 comments