Review Novel Laut Bercerita - Menemui Kembali Masa Sebelum Reformasi
“Kita
hidup di negara yang menindas rakyatnya sendiri. Bapak senang beada di antara
anak anak muda yang mengerti bahwa bergerak, meski selangkah dua langkah jauh
lebih berharga dan penuh harkat daripada berdiam diri.”
Kemana kita
akan pergi membawa masa-masa muda kita? Menyelami lautan atau menanjak dan
mendaki bukit-bukit dan gunung?
Novel Laut
Bercerita adalah karya Leila S. Chudori yang pertama saya baca. Tidak terhitung
berapa teman saya yang merekomendasikan buku ini sejak beberapa tahun lalu,
tapi saya baru siap membacanya hari ini. Spoiler dari teman-teman berhubungan dengan era
sebelum reformasi, jadi saya tunda dulu membaca novel ini karena saya pikir
cukup berat, lha wong saat itu saya lagi pusing ngurusin skripsi.
Tapi setelah
menuntaskan novel Laut Bercerita, justru saya merasa menyesali keputusan saya
untuk menunda membaca novel ini. Bagaimana tidak, novel ini kental sekali
dengan gelora semangat anak – anak muda, menghadapi pemerintah, menghadapi
pujaan hati, kehilangan sampai ketidakpastian terhadap hidup . Skripsi? Dih,
masalah hidup yang bagian mana itu?
Novel ini
bercerita tentang Laut berserta kawan-kawannya, sekelompok mahasiswa yang yang
memperjuangkan adanya reformasi di era pemerintahan presiden Soeharto, yang
mana kala itu perjuangan semacam itu disebut perlawanan atau “merongrong”
kedaulatan pemerintah.
“kita tak
ingin selama-lamanya berada dibawah pemerintahan satu orang dalam puluhan
tahun, Laut. Hanya di negara diktatorial satu orang bisa memerintah begitu
lama.”
“Tapi aku
tahu satu hal: Kita harus mengguncang mereka. kita harus mengguncang masyarakat
yang pasif, malas dan putus asa agar mereka mau ikut memperbaiki negeri yang
sungguh korup dan berantakan ini, yang sungguh sangat tidak menghargai
kemanusiaan ini, Laut.”
Jelas, di
dalam novel ini kita diajak ikut menjadi bagian dan menyaksikan apa yang
terjadi pada era sebelum reformasi. Intel berkeliaran dimana-mana, penculikan,
perlawanan, penyekapan bahkan pembunuhan, sesuatu yang tampak begitu nyata
dituliskan dalam novel ini. Bahkan aku sempat berpikir, jangan – jangan penulis
pernah menjadi bagian dari mahasiswa – mahasiwa yang melakukan ‘perjuangan’
itu, saat Soeharto masih gagah-gagahnya menjadi orang nomor satu di bangsa ini.
Meski kental
dengan tegangnya perlawanan, novel Laut Bercerita tetap cukup manis dengan
kisah romantisme beberapa tokoh. Ya, namanya anak anak muda, gimanapun pasti
nggak jauh jauh sama cinta, kan? Pun, novel ini juga memberikan pembacanya
mencecap haru biru kehilangan, rindu dan kematian. Berkat novel Laut Bercerita,
saya jadi kepingin baca karya – karya Leila S. Chudori yang lain.
Setelah
membaca novel ini, saya seperti diajak bermain puzzle betemakan bangsa ini.
Kepingan demi kepingan puzzle itu adalah
cerita lain dari bangsa ini, yang gelap, dan tidak dituliskan dibuku-buku
sejarah. Saya menemukan kepingan puzzle bahwa ada makna yang lebih mendalam
dari aksi kamisan di depan istana negara yang sebelumnya tidak pernah saya
maknai keberadaannya, selain orang – orang bepakaian hitam dan bergerombol yang
menuntut hak hak yang saya tidak tahu apa. Saya menemukan kepingan puzzle bahwa,
nun jauh disana masih banyak trauma dan kesedihan yang belum diselesaikan oleh bangsa ini. Puzzle
terakhir, ini seperti puzzle emas. Pemuda, mahasiswa adalah sumber daya terbaik
untuk menggerakkan bangsa melepaskan diri dari tangan tangan serakah, korup dan
berantakan.
Apa yang sebenarnya
kita kejar?
Setelah
merampungkan Laut Bercerita, “Apa yang sebenarnya kita kejar?” adalah pertanyaan
akhir yang saya bawa, khususnya untuk
diri saya sendiri.
Apa yang
sebenarnya kita kejar untuk mengisi masa muda kita?
Urip iku nguripi,
ya, tujuan hidup yang
sebenar-benarnya itu hidup tanda lupa menghidupi orang lain. Hidup yang memperjuangkan
hal-hal yang benar, sehingga bisa menghidupi orang – orang disekitar kita. Hidup
yang bisa memberikan hal-hal baik untuk orang lain. Untuk keluarga, tetangga,
rakyat tanpa mengambil hak orang lain.
Hidup yang
akan membawa kita menyelami lautan, mendaki gunung gunung dan menapaki jalan
jalan becek dan terjal tapi kita paham bahwa jalan – jalan seperti itulah yang
tidak berlawanan dengan hati kecil kita, urip seng nguripi. Kalau kata
bapaknya Laut buat pemuda, anak muda yang mengerti bahwa bergerak, meski
selangkah dua langkah jauh lebih berharga dan penuh harkat daripada berdiam
diri.
Judul: Laut
Bercerita
Penulis:
Leila S. Chudori
Tahun Terbit:
Oktober 2017
ISBN:
978-602-424-694-5
Halaman: x +
379 hlm

%20(5).png)

0 comments