Rencana

 


Ini bukan seperti kehidupan yang saya rencanakan. Semua menyimpang  terlalu jauh. Padahal belasan tahun lalu, saat masih di sekolah menengah, saya sudah seringkali menuliskan hal yang sama perihal hal hal yang ingin saya capai dan wujudkan dalam hidup.

Saya sungguh bingung, lantas saya harus apa? Pada usia yang 25++ saya masih terlihat seperti remahan rengginang di kaleng khong guan. Padahal dulu percaya diri sekali menulis success under 30. Haha.

 Lantas saya harus bagaimana?  Mengapa tidak ada yang memberi tahu saya bahwa impian – impian yang saya tulis bisa saja gagal dan berjalan tidak sesuai rencana. Begitu bodoh dan naifnya saya dulu. Sialnya, saya baru menyadari hari ini. Menyebalkan sekali!

Dalam kepala saya, kesuksesan adalah saya lulus kuliah tepat waktu dengan nilai memuaskan. Oh, ternyata saya lulus terlambat dan nilai saya tidak bagus bagus amat. Poor me!

Setelah lulus kuliah, karena saya ada dalam bidang pendidikan, tentu saja saya ingin segera mengajar. Hamdalah, sudah terealisasi sebelum lulus kuliah. Setelah bekerja beberapa tahun, tentu saja saya ingin segera mendapat predikat PNS itu. Sebuah predikat yang katanya, bisa membanggakan hati seluruh orangtua.

But hey! Look at me, bahkan perhari ini saya sudah menjadi pengangguran hampir selama setengah tahun. Haha, sial sekali.

Orang – orang dewasa disekitar saya dulu mengapa tidak ada yang mengoreksi impian – impian yang saya tulis, ya? Ralat, lebih tepatnya tidak ada yang memberi tahu bahwa bisa saja dalam perjalanan mewujudkan impian – impian itu jalannya tidak selalu mulus. Weeyo, kenapa? 

Oya, apakah saya terlalu mendikte kehidupan? Atau saya terlalu saklek untuk mewujudkan hal yang benar – benar sama seperti yang saya rencanakan dari belasan tahun silam?

Pada akhirnya persetan dengan impian – impian itu. Saya harus hidup dan butuh makan. Saya memperoleh ilham untuk menuliskan sedikit kelebihan yang saya punya; menulis dan desain. Saya juga mencoba menggali kemungkinan – kemungkinan yang bisa saya jadikan sumber penghasilan.

Ya, saya harus tetap makan dan hidup. Kata Ae Sun dalam drama When Life Gives You Tangerins: ada yang lebih memalukan daripada meminta pertolongan, yakni tidur dengan perut berbunyi. 

Ya, ada hal yang lebih penting daripada hidup saklek mengikuti impian; bertahan hidup.

Saya membuka pintu itu sendiri. Pintu kesempatan yang sebelumnya tidak saya akui sebagai dream life saya. Jika memang rezeki saya bukan berprofesi menjadi guru dengan titel pe en es, barangkali ada kesuksesan lain yang sedang menunggu saya.

Hidup tidak berhenti disini. Ada banyak jalan menuju roma.

 

0 comments