Cerita Dibalik Layar, Menjadi Leader WCD 2021 Kota Metro: Ketakutan itu Untuk Dihadapi Bukan Dihindari


Sejauh aku mengenal diriku sendiri, aku menyadari bahwa aku ini sosok brengkeli, bahkan brengkeli untuk diri sendiri. Brengkeli mungkin hampir sama seperti keras kepala, kemauannya kuat, begitulah kira-kira.

Katanya kalau orang kemauannya kuat pasti dapat apa yang ia cita-citakan. Tapi sejauh yang aku lakukan sampai hari ini, apa yang menjadi kemauanku meski itu kuat belum tentu aku dapatkan. Tapi yang aku tahu , dari sifat brengkeli ini, aku selalu dibuat belajar. Paling sering aku dibuat kelabakan sendiri lewat sifat kerasku ini, pusing sendiri, ujungnya ya nangis. Tapi sifat ini selalu memberiku pelajaran-pelajaran hidup yang baru.


Belum lama ini aku menjadi leader aksi World Cleanup Day di kota tempat aku merantau. World Cleanup Day adalah hari bersih-bersih sedunia dengan tujuan semakin menyadarkan masyarakat tentang permasalahan sampah di lingkungan sekitar. 

Entahlah. Aku sedikit lupa bagaimana awal mulanya, yang aku ingat saat itu open recruitmen untuk beberapa posisi untuk kota masing-masing. Saat itu aku memilih menjadi bagian knowledge, karena kupikir sedikit relate dengan devisiku di Komunitas Bersinergi Metro. Namun saat sesi wawancara, aku lupa mulanya bagaimana, aku diberi tawaran sebagai leader. Karena aku sudah punya komunitas yang mana hal tersebut memudahkan untuk pembentukan core team, seingatku sih ini alasannya.

Ya, tahun 2019 aku juga ikut aksi ini. Bedanya aku hanya berperan sebagai volunteer biasa, tidak ikut andil dalam kegiatan dibalik layar. Aku hanya volunteer hari H saat itu.

Selang beberapa hari setelah wawancara, aku dan satu orang kawanku bertemu dengan leader WCD bagian provinsi dan satu temannya untuk sharing terkait aksi ini. Apa yang harus aku lakukan sebagai leader, bagaimana pembentukan core team, mencari sponsor hingga bagaimana untuk meminta dukungan di pemerintahan kota Metro.

I swear, this is a new thing for me!

Sebenarnya aku bisa saja menolak menjadi leader, bisa saja aku lari dan memilih tidak bertanggung jawab untuk project ini dan masih saja banyak pilihan lain untuk menghindar. Karena aku membayangkan saja itu akan sangat melelahkan dan pasti banyak wira-wiri terlebih aku juga masih ngurusin skripsi. Ya, bisa saja saat itu aku memilih kabur saja, nggak mau tau dan bodo amat.

Tapi karena sifat brengkeli ku inilah aku memilih untuk terus menjadi leader aksi ini. Memilih berdiri paling depan menyambut segala resiko dan kemumetan-kemumetannya. Sifat keras inilah, yang sejak dulu aku pegang. Setiap kali aku merasa males mumet saat itulah sifat keras itu muncul dan berkata gini: Hih, masak gitu aja takut dan nggak berani. Cemen banget, lemah banget! 

Begitulah kira kira, dan aku paling tidak suka mendapati diriku lemah, aku nggak suka mendapati diriku ketakutan tanpa pernah mau mencoba. Jadi, daripada aku dikatain lemah sama diri sendiri dan suara suara kayak gitu bakalan berdengung lama dikepala, aku lebih baik memutuskan terus maju.

Ya, aku memutuskan dengan sadar untuk menjadi leader. Aku siap dengan segala konsekuensinya. Dan suara-suara yang mengejekku lemah itu pun hilang …

Bentuk Kemumetan – Kemumetan #1



Kupikir hal mudah untuk aku menghandle teman teman di komunitas untuk mempersiapkan acara. Nyatanya tidak. Kesibukan kami mengerjakan skripsi, beberapa relawan yang masih berada di kampung halaman menjadi faktor utama susahnya berkomunikasi dan menyusun acara. Bahkan rapat pertama saja harus dilakukan via zoom, menurutku sangat tidak efektif. Kupikir akan mudah, semudah jalan tol, nyatanya tidak begitu. Aku dengan sifat perfeksionisku, sifat grusa-grusu dan panikan dihadapkan dengan acara yang sudah mepet dan teman teman yang nyelow ya jelas ambyar.

Dititik – titik inilah aku merasa aku sangat menyesal memutuskan menjadi leader. Aku takut kerja sukarela ini hanya aku yang memiliki ambisi, sedang teman-temanku tidak. Aku takut aksi penuh maslahat ini  belum sampai ke hati masing-masing volunteer, dan hanya menganggap ini hanya sebagai kerja rodi. Saat itu aku ingin menangis rasanya, eh sudah menangis malahan.

Tim inti yang kupikir bisa benar benar all out mendukungku di aksi ini, ternyata tidak begitu. Hanya ada beberapa teman yang membantuku pontang-panting kesana-sini. Itu lelah, lelah sekali. Disisa – sisa sedih itu aku hanya merasa, ”apakah hanya aku yang memiliki ambisi besar disini?”. 

Bentuk Pelajaran – Pelajaran #1



Setelah aku merasa sedih, bagaimana pun aku selalu ingin bangkit dan tersenyum. Aku selalu ingin berdiri, melakukan yang aku perjuangkan dan aku sukai dengan perasaan bahagia. Karena melakukan sesuatu dengan hati bahagia, aku tidak akan terlewat dengan pelajaran – pelajaran hidup dibaliknya.

Setelah aku membuang rasa sedihku, biasanya aku mematut diri di depan cermin. Tersenyum, dengan senyum paling manis yang aku punya. Jika kurasa belum cantik dan manis bentuk senyumku, selalu aku ulang-ulang berusaha tersenyum secantik mungkin. Setelah melihat rupaku paling baik, aku akan banyak merapal mantra dan kata kata ajaib. Saat itu mantra yang aku rapal adalah :

May, kamu sudah hebat tetap bertanggung jawab. Kamu membuktikan bahwa kamu bukan pengecut, kamu membuktikan bahwa kamu kuat dan tidak lemah. May, menjadi pemimpin itu sejatinya selalu siap menerima ketidaksukaan, diabaikan, dianggap otoriter, terlalu keras dan hal-hal tidak menyenangkan lain diluar sana. Bukan salahmu, menjadi pemimpin selalu mengingatkan ini dan itu. Bukan salahmu ingin membuat project ini berhasil dengan baik, itu tugasmu. Tapi May, hanya saja tidak banyak orang yang memahami sudut pandangmu sebagai leader. Jadi tidak perlu berkecil hati, sebaik apapun pemimpin sepertinya selalu saja ada orang lain yang mengkritikkan? Kamu hanya harus melapangkan hati lebih lebar dari sebelumnya.”

Entah mantra itu meluncur begitu saja dari mulutku, bersamaan dengan air mataku yang ikut terus-terusan mengalir. Tapi setelahnya aku tersenyum kembali, bahkan lebih manis dari sebelum aku mengucapkan mantra.

Ya menjadi pemimpin itu sejatinya harus siap dengan semua hal. Siap dikritik, siap dicela, siap menerima, dan harus siap lebih lelah dari yang lainnya.

Bentuk Kemumetan-Kemumetan #2



Jika kemumetan pertama itu menyoal internal di core team, kemumetan lainnya itu masalah perizinan, dukungan dan duit, haha. World Clean Up Day memang aksi nasional, bahkan aksi bersih bersih dunia tapi kemarin, kami memang tidak mendapat dana sama sekali. Jadi kami benar benar nol rupiah, saat memutuskan menjadi core team. Ya sudahlah, pikirku. Kondisinya memang lagi seperti ini, kalau mengandalkan dana turun, kayaknya nggak bakal jalan aksi semacam ini.

Padahal kebutuhan yang kami perlukan untuk acara banyak sekali. Sewa soundsystem, makan siang 50 relawan, banner, sarung tangan medis, trashbag, masker, snack dan tetek bengek lainnya.

Jadi menyoal dana kami memutuskan untuk patungan 15.000 rupiah untuk anggota tim inti sambil nyari-nyari sponsor. Memang belum mampu ngecover semua kebutuhan logistik, tapi seenggaknya buat ngebantu. Ya gapapalah ya, namanya relawan kayaknya untuk hal kayak gini kita emang selain tenaga dan pikiran, bukan hal baru kalo relawan juga harus  patungan semacam ini, wkwk.

But, it’s a sweet moment guis. And I am so proud of you all!

Selain masalah dana, kita juga harus wira-wiri ke polres, kantor walikota, kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), untuk audiensi, perizinan dan lain-lain. Mengcapek sekali memang, apalagi ke kantor-kantor itu nggak cuma sekali, tapi berkali-kali. Otakku tambah semrawut dicampuri mikir penelitian, APD yang belum acc- acc dosen pembimbing. Untunglah selalu ada teman yang bersedia  menemaniku wira-wiri, panas-panasan, hingga hujan – hujanan. 

Sampai hari  ketiga sebelum acara kami belum mendapat kabar apa apa dari sponsorship, wkwk. Jadi belum megang uang sama sekali, cuma uang patungan. Logistik belum ada yang beli, wkwk. Pening gak tuh otaknya. 

Sampe kepikiran, apa nggak usah dikasih makan siang aja ya. Ya allah tapi kok kasian amat, apalagi yang ikut aksi nggak Cuma orang orang KBM, tapi nggandeng komunitas lain dan ngajak masyarakat sekitar. Ya Allah, otakku udah teriak teriak : “Oh, andai aku ini Rafathar,” wkwk.

Bentuk Pelajaran-Pelajaran #2

Di hari kedua sebelum acara, selain mendapat kabar kalau dari DLH kami mendapat bantuan truk pengangkut sampah, bentor beserta tim untuk membantu kami, kami juga mendapat kabar baik lainnya. Kami mendapat bantuan banner, dana dari salah satu rumah makan, dan saat aku dan salah satu relawan fixsasi ke BPBD, kami mendapat bantuan dana yang banyaknya nggak pernah kami sangka-sangka.

Saat itu memang bukan kali pertama aku megang uang dari donatur (manusia-manusia baik berhati malaikat), tapi kali itu entah kenapa rasanya beda. Karena bapak yang memberi dana itu sambil bilang gini: Bapak tau rasanya jadi relawan. 

Cukup kalimat seperti itu yang bisa aku tulis disini. Tentang ini, nanti lain waktu akan aku buat tulisan khusus. Tentang kebaikan hati dan mata teduh, yang mungkin akan menjadi salah satu cerita terbaik yang aku dapatkan di kota ini.

Selain itu, selama ini imej polisi dalam kepalaku tidak tahu kenapa selalu buruk. Padahal ya aku nggak pernah diapa-apain sama polisi. Selama ini aku cuma sering lihat teman-temanku sering ditilang polisi. Setelah aku pikir pikir, kan ya emang mereka salah. Kalau nggak salah nggak mungkin kan ujug-ujug ditilang. Menyoal sikap polisi lain diluar sana, aku tahu beberapa ada yang tak mengayomi. Tapi dari kisah ini, aku tidak lagi bermata picik menggeneralisasi bahwa polisi seluruhnya buruk. Dalam aksi ini aku benar-benar merasa menjadi warga yang diayomi. Image polisi yang keras dan menjengkelkan versiku dikalahkan oleh fakta bahwa bapak polisi yang memantau aksi kami sangat kebapakan, ramah, dan lucu. 

Selain itu, guis. Kami mendapat bantuan makan siang dari lurah yosodadi, huhu. Kami  memang memesan catering, tapi hanya untuk 50 orang. Estimasi kita emang segitu. Tapi pas hari H, ternyata karang taruna, relawan kota metro dan masyarakat sekitar ikut dan antusias banget ngebantu, banyak banget orangnnya. 

Jadi sebelum tau dapat tambahan makan siang aku udah bilang sama salah satu volunteer KBM : Makan siangnya dibagiin buat komunitas partnership sama masyarakat dulu, nanti kalau ada sisa baru buat kita. Kalau kurang nanti relawan KBM bisa satu nasi bungkus buat barengan.

Intinya aku tahu nasi makan siang bakalan kurang, makanya aku bilang kayak gitu ke temen yang mau bagiin makan siang. Tapi nggak disangka-sangka, pas mau makan dapet nasi kotak banyak banget sekitar 50 kotak. Huaa, mau nangis.



Jadi, aku percaya niat baik selalu diiringi dengan hal-hal baik disekitarnya. Ya kayak semesta itu udah punya konspirasi sendiri buat nyambut segala niat baik yang kita lakuin dan Allah emang selalu punya cara buat ngasih kejutan ke hamba-hambanya. 

Jadi kalau pas udah mentok otaknya, tiba-tiba nggak disangka hal baik dateng gitu aja. Kadang sangking gatau harus ngerespon gimana pengen gitu bilang ke semesta, kalau mau ngasih hal hal baik itu pake kode geh. Atau seenggaknya, kasih tau sejak awal kalo semua bakal baik baik aja. Jadi nggak perlulah, aku ngerasain nggak selera makan atau mumet berkepanjangan.

Haha. Atau memang sebenernya, segala niat baik tuh emang udah dipastiin bakal “baik-baik aja” kalik ya sama semesta? Kita aja mungkin ya yang nggak percayaan sama kuasa langit. Kita aja kali ya yang lebih milih capek buat insecure dan ngekhawatirin banyak hal daripada memilih masrahin semuanya ke Tuhan?

Haha, kayaknya iya. Jadi inget cuitan di twitter, gini : Udah capek capek insecure nggak taunya sukses. Haha. 



Ah, sebenarnya banyak sekali hal-hal lain yang bisa aku pelajari dari moment itu. Termasuk menyadari bahwa aku ini gupekan poll dan sangat keras kepala. Terima kasih selalu orang-orang baik. Khususnya teman teman relawan di Komunitas Bersinergi Metro. Terima kasih, sudah menjadi bagian yang menemani dan membantuku mewujudkan semua mimpi-mimpi dan ambisiku. Terima kasih untuk tidak lelah tumbuh dan menjadi manusia yang bermanfaat untuk sekitarnya. Terima kasih sudah mau menjadi cerita.

Much love,

Perempuan yang Ingin Tumbuh Bersamamu.



0 comments