Menjadi Guru Hari Ini
Siang tadi, saat mengawas remedial IPS perhatianku sedikit terganggu pada raut wajah seorang siswa putra. Ia terlihat gelisah dan kesusahan, tapi ia tidak sibuk menoleh ke kanan atau kiri. Ia tetap tidak bergerak dari duduknya. Ia hanya seolah, sedang merutuki dirinya sendiri. Matanya kulihat begitu putus asa. Ada raut kesedihan, rasa kesal dan rasa tidak berdaya. Dari wajahnya aku seperti mendengar, "mengapa aku seperti ini?"
Sejak awal, sebelum melakukan remedial aku memang lebih dulu memberi kepercayaan kepada mereka. Perihal aku yang percaya dengan kejujuran dan potensi mereka.
Setelah remedial usai, aku memanggil anak tersebut. Kami berbicara empat mata. "Tadi kesusahan nggak sama soalnya?
"Hehe, lumayan miss. Nomor dua nggak saya isi, miss," ia menjawab dengan senyum cengingisan khasnya.
Kemudian aku menanyakan rutinitasnya di asrama. Jadwal belajar, waktu tidur dan bangun, sampai kesiapannya mengikuti program sekolah yang sebelumnya ia lewatkan.
Ia mendengarkan dengan takzim. Setelah aku menanyakan banyak hal dan sedikit memberinya nasihat dengan balut canda tawa, giliran ia yang bertanya padaku.
"Miss disuruh siapa ngomong kayak gini? Di suruh Ibu (pondok) ya, kok temen-temen yang lain yang belum munaqosyah nggak dipanggil juga, Miss,"
Aku terhenyak. Menelisik ke dalam matanya. Ah, apakah mungkin selama ini kita memanggil satu atau dua orang anak yang terlalu mencolok karena perihal keterlambatannya dalam belajar. Sehingga ketika dapat 'panggilan', yang terlihat dimata anak anak hanya sebuah 'penekanan' tanpa rasa cinta. Jadi, dia merasa bahwa ia semakin rendah dimata teman-temannya. Aku jadi merasa bersalah.
"Enggak, Miss may nggak disuruh siapa-siapa. Miss May pengen ngobrol aja sama kamu karena Miss sayang sama kamu,".
Tentu saja pertanyaanya aku sangkal, bersama sepaket penjelasan lain alasan mengapa aku memanggilnya. Ia menunduk lebih takzim. Lalu ia memandangku dengan mata berkaca-kaca. Air matanya sudah hampir jatuh.
"Makasih ya, Miss" ucapnya dengan mengusap air mata. Dadaku sesak, aku juga ingin menangis. Tapi aku tahan, aku takut dia justru akan merasa bahwa ia menyedihkan. Aku menahan air mataku dengan sangat.
Kemudian dia bercerita banyak hal tanpa kuminta. Perihal ia yang susah bangun, tentang temannya yang rajin dan tentang ketakutannya akan dijadikan bahan gosip oleh teman-temannya jika ia berubah jadi 'baik'. Aku hanya tersenyum mendengar curhatanya yang tidak disangka-sangka, bersyukur karena Tuhan memberiku kesempatan bertemu hari ini dan mendampinginya.
Esoknya, entah kenapa aku melihatnya begitu riang. Saat gerakan pagi bersih-bersih, ia terlihat menebar senyum kemana-mana. Entah hanya perasaanku atau memang kebenarannya. Ia beberapa kali menyapaku dengan senyuman lebar sekali.
Benar, kita tidak boleh mengukur seseorang karena hari ini. Karena boleh jadi, dia hari ini akan berbeda dengan hari esok. Barangkali hari ini, seseorang itu tidak diperhitungkan tapi siapa tau esok akan menjadi seseorang yang dielu dan diunggulkan. Bagaimana pun hari ini, masa depan masih selalu suci.
Maka tugas kita sebagai pendidik selain mendampingi gairah belajar yang pasang-surut, tugas kita ialah mengajarkan bagaimana untuk selalu memiliki keinginan belajar. Setidaknya jika hari ini gairah mereka surut, esok hari anak-anak kita selalu memiliki alasan untuk kembali belajar.
Karena makna belajar itu sendiri tidak hanya bersekat bangku formal dengan nama SD, SMP dan seterusnya. Ada sekolah tempat belajar yang lebih luas, yakni masyarakat. Jika sebagai pendidik kita sudah membekalinya gairah keinginan belajar, maka kapanpun, dimanapun dan bersama siapapun kelak mereka selalu jatuh cinta, lagi, dan berkali-kali dengan belajar itu sendiri.


7 comments
Inspiring teacher 💗
BalasHapusselaluu sukaa tulisan tulisan mbaa mayyyy
BalasHapusMayyyy :"""")
BalasHapusSangat menginspirasi
BalasHapusCerita Yunda bikin saya terharu🥲
BalasHapusbegitu lembut, namaste miss
BalasHapusSemangattt belajarr! 🪄
Hapus