Semangkuk Doa Ibu

Tulisan yang pernah aku post di akun Tumblr. 
March 22th, 2022.


Ini semangkuk kebaikan kesekian, yang dibawakan oleh Bu Regina, ibu dari murid privatku. Tapi hari ini ceritanya agak beda, bukan kubawa sendiri setelah pulang mengajar, tapi beliau antarkan sendiri ke kosanku malam malam.

Jujur saja, kadang aku merasa bingung atas kebaikan orang lain yang diberikan kepadaku.  Bukan, bukan aku tidak bersyukur atau tidak menyukainya. Tapi terkadang aku bertanya-tanya, kebaikan seperti apa yang sudah aku lakukan hingga aku dibalas kebaikan melimpah seperti ini?

Aku merasa tidak pernah sebaik ini dengan orang lain. Aku merasa tidak pernah menolong orang lain dengan sangat, tapi kenapa aku selalu dipertemukan dengan orang - orang baik?

Dan satu satunya telinga yang siap kubagi segala tumpah ruah dikepalaku adalah Ibu.

"Buk, kenapa ya, Sarah selalu ketemu sama orang orang baik? Sarah bingung, kok bisa ya." Tanyaku pada Ibu suatu hari lewat telepon.

Mungkin Ibu heran dengan pertanyaanku, beliau hanya menyimak semua yang berasal dari kepalaku. Setelah aku bercerita banyak hal perihal kebingunganku atas kebaikan orang lain, giliran Ibu menanggapi ceritaku.

 "Karena Sarah anak baik. Makanya, Sarah ketemu orang orang baik. Doa Ibu disini juga sama. Ibu selalu berharap, biar Sarah selalu ditempatkan ditempat baik dengan orang orang yang baik,"

Itu benar benar jawaban diluar ekspetasiku. Jawaban yang tidak pernah ada sama sekali dikepalaku. Bukan, bukan karena Ibu mengatakan aku anak baik.  Bukankah itu penilaian relatif dari seorang ibu kepada anaknya, kan? Yah, ibu mana sih, yang tidak menganggap anaknya baik.

"Ibu juga sama, berharap, Sarah selalu ditempatkan ditempat baik dengan orang orang yang baik," Itulah kalimat yang berhasil mengubah sudut pandangku. 

Detik selanjutnya aku menangis. Aku menangis karena sebesar ini, aku baru menyadari keberadaan doa Ibu. Aku terlalu sombong, menebak - nebak kebaikan ini dan itu hanya berporos pada kebaikan apa yang sudah aku lakukan. Aku lupa, bahwa doa Ibu, barangkali jauh lebih dekat dan lekat padaku.

Karena sejauh apapun aku pergi, doa ibu akan tetap ada. Kapanpun aku merasa kesulitan, doa Ibu menjelma menjadi banyak pertolongan - pertolongan.

Jadi semangkuk sup iga sapi ini adalah doa ibu yang mewujud makanan kesukaaanku. Kemudian, Bu Regina dan kebaikan kebaikannya adalah doa doa dan kebaikan Ibu yang telah terkumpul, dan membentuk suatu takdir. Takdir yang baik, yang menjumpakanku dengan orang orang baik.

***

Lampung Timur, January 18, 2024

Lagi-lagi Bu, aku berterima kasih pada doa-doamu. Bagaimana pun hidupku, asal doamu masih bersamaku, aku akan selalu baik baik saja.

0 comments