Pertanyaan

 Would you like you if you met you?

Sebuah pertanyaan yang sering aku tanyakan pada diriku sendiri kala sendirian dan kesepian. Katanya, kita harus benar – benar merubah persepsi kita terhadap diri kita sendiri. Karena kalau kita sendiri tidak menyukainya, siapa yang mau? Tapi izinkanlah malam ini aku mengakuinya, setidaknya agar aku berkaca bahwa masih banyak hal yang harus aku rubah dalam hidup ini.


Aku berantakan.

Entahlah, bisa dimaknai secara literal atau non literal. Tapi aku merasa demikian. Aku masih sering mengingkari janji – janji yang aku buat untuk diriku sendiri. Janji untuk bangun pagi, tidak boros atau tidak menangis. Janji yang aku buat, dan janji yang aku ingkari. Manajemen waktuku nol besar, apalagi manajemen keuanganku. Aku berantakan dalam mengelola emosi, aku berantakan mengatur perasaanku sendiri. Bahkan yang sederhana, perihal kamarku saja, kau akan lebih sering melihatnya berantakan daripada terlihat rapi.

Tapi izinlanlah aku untuk berubah, berbenah waktu demi waktu tanpa merasa lelah. Setidaknya setelah menulis ini, izinkanlah aku untuk bangun tepat waktu untuk solat subuh, membaca Quran meski tertatih-tatih, atau bersamailah keinginan untuk selalu punya ingin dan usaha menghapalkan surah al-waqiah, al-mulk dan ar-rahman.

Hari ini aku begitu berantakan. Bahkan mandi saja, lebih sering aku lakukan malam. Aku mengingkari janji – janji untuk tidak membuang waktu dengan sia-sia dan hina, tapi sepanjang siang aku hanya menonton Netflix atau entah apa yang aku lihat di social media.

Aku begitu berantakan hari ini. Aku belum cukup ‘rapi’ untuk dibawa dalam langkah dan lari, jadi, would you like this girl if you met her? Untuk tidak jatuh cinta denganku, aku memaklumi. Karena sungguh, aku seberantakan itu. Tapi setelah menulis ini, izinkanlah aku berubah. Beri kesempatan tanpa lelah, untuk aku belajar sekali lagi, lagi, dan tanpa henti. Esok biarkan aku bangun subuh, bersujud dengan penuh penyesalan bahwa sudah banyak waktu yang aku sia-siakan. Esok, biarkan aku menemui mimpi – mimpiku lagi. Terakhir, beri aku sedikit rasa iba, setidaknya untuk diriku sendiri; untuk mempelajari bahwa kemarin dan hari ini tidak selalu sama. Apa yang aku lewati tidak akan terulang. Apa yang sudah aku tinggalkan, tidak dapat aku jemput untuk kubawa pulang. Kesempatan yang aku buang, barangkali akan begitu malas untuk kembali datang.

Nanti, ketika hari – hari yang tidak tertebak membawaku kembali kesini, atau kau sampai pada tulisan ini karena merasa jatuh hati, semoga aku tidak lagi dalam keadaan berantakan.

Aku tidak cantik

Tidak ada yang pernah menganggapku cantik, dan kalaupun pernah  ku  dengar , aku tidak pernah mempercayainya. Karena, ya memang demikian. Aku tidak cantik, entah hatiku atau parasku. Untuk banyak hal, aku masih saja sering berbohong. Menebar benci atau menatap iri. Tidak ada alasan, karena apapun alasannya, sesuatu yang menyakiti orang lain tidak pernah terlihat cantik sama sekali.

Tapi untuk banyak hal, sekali lagi, izinlan aku terus belajar. Aku ingin juga menjadi cantik karena menerima dengan apa adanya perihal yang ditakdirkan semesta.  Aku juga ingin menjadi cantik karena penerimaan bahwa tidak apa – apa untuk tidak selalu baik-baik saja. Aku juga ingin menjadi cantik karean turut gembira atas apa – apa yang menjadi suka dan bahagia dar orang lain. Aku juga ingin menjadi cantik  karena ‘maaf’, ‘terima kasih’ dan ‘tolong’. Mulai malam ini, izinkan aku terlahir kembali untuk menjadi cantik.

Kemudian esok, aku izinkan aku bangun dengan wajah berseri dan  hati yang cantik. Bibirku menjadi penuh senyuman dan  hanya hal – hal indah dan kebaikan yang aku suarakan. Aku ingin melihat di cermin, mataku menjadi samudra keinginan-keinginan untuk selalu belajar. Jadi lain waktu ketika aku kembali membaca ini atau kamu sudah sempat menjumpaiku, semoga aku sudah menjadi cantik. Cantik sekali!

Aku tidak kaya.

Banyak sekali aku mengoceh untuk selalu punya uang, setidaknya, seminimal-minimalnya adalah dua milyar. Tapi banyak juga waktu disaat-saat sendirian, aku bertanya pada diriku sendiri, “apakah sebenarnya hal itu yang sangat aku inginkan? Kekayaan?

Kemudian hatiku  tidak pernah mengatakan ‘ya’ tapi juga tidak pernah mengatakan ‘tidak’. Itu seperti aku dihadapkan pada sebuah misi yang harus aku cari jawabanya sendiri.

“Bukankah aku ingin rumah?

“Bukankah menyenangkan jika aku bisa membeli apa saja yang aku  mau?

“Betapa membanggakan jika aku mampu mewujudkan apa yang orangtuaku pinta?

Beberapa pertanyaan yang sering muncul dikepalaku, dan terkadang aku pun ikut mendukungnya: ya pasti menyenangkan punya kekayaan. Tapi setelahnya aku berpikir, punya rumah, membeli apa saja, perasaan bangga, bukankah itu hanya sebuah rasa patuh terhadap ekspetasi yang diharapkan oranglain terhadapku. Apakah aku benar benar akan bahagia jika sudah mendapatkan semuanya? Kebahagiaan seperti apa yang akan aku rasakan?

Tapi, yang paling aku percayai dari kehidupanku ini adalah hatiku. Hatiku tidak pernah berbisik, meskipun lirih sekali, bahwa yang aku inginkan adalah kekayaan. Yang aku tahu, hatiku selalu jatuh cinta dengan hal – hal jauh dari hingar bingar dan kata kaya; jatuh cinta dengan semua hal yang dilakukan relawan, mimpi menjadi relawan bencana, mendaftar untuk mengabdi sebagai pengajar di pedalaman, tersenyum untuk orangtua dan pedagang-pedagang di trotoar, mengajari anak kecil, atau menulis pesan – pesan kecil agar banyak orang menjadi lebih hidup karena mempercayai bahwa masih selalu ada harapan. Hatiku selalu jatuh cinta dengan hal-hal seperti itu. Hati tidak mennjawabku tapi ia memberiku petunjuk-petunjuk. Jadi, aku benar-benar tidak kaya bahkan aku juga memiliki hutang. Setelah semua ini, would you like me if you met me?

Catatan Jawaban:

Perihal aku yang berantakan, aku menyadari satu hal setelah menulis sepanjang ini; bahwa berantakan adalah sesuatu yang bisa aku rubah. Yang justru menjadi pertanyaan adalah, apakah aku mau merubah diriku sendiri yang sudah terlanjur malang ini? Sedangkan kemalangan itu disebabkan oleh diriku sendiri.

Kelak ketika aku tua semoga tidak ada penyesalan karena pertanyaan; mengapa dulu tidak aku lakukan ini, mengapa dulu tidak aku lakukan itu. Mengapa aku tidak berusaha lebih? Mengapa aku tidak penuh semangat. Mengapa aku tidak melakukannya dengan maksimal? Mengapa aku membuang-buang waktu? Semoga kelak kamu aku tidak  dipenuhi penyesalan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

 

Tulang Bawang Barat, 2024.

0 comments