Perempuan, Pernikahan dan Beban Gandanya
Bagiku, sebagai perempuan keputusan menjadi istri sekaligus ibu adalah tanggung jawab yang harus di jalani seumur hidup. Tanggung jawab yang bahkan sampai hari ini aku tetap tak habis pikir bagaimana perempuan - perempuan diluar sana itu mampu menjalaninya.
Dalam masyarakat kita, seorang Ibu pagi sekali harus memasak, menyiapkan sarapan untuk suami sebelum bekerja dan anak anak sebelum berangkat sekolah. Bagaimana setiap hari, mereka harus berjibaku dengan piring kotor, lantai kotor, baju kotor dan itu harus mereka kerjakan setiap hari. Tolong garis bawahi, setiap hari.
Kita buat rata rata saja, perempuan menikah diusia 22 tahun. Coba dihitung, sampai diakhir hari mereka, berapa puluh tahun mereka melakukan tanggung jawab mengurus rumah tangga seperti yang saya sebutkan diatas? Peluk dan cium untuk semua Ibu di dunia.
Hal tersebut belum terhitung dengan sakitnya melahirkan dan menyusui. Membereskan mainan anak anak yang berserakan, membersihkan ompol anak anak saat masih balita.
Sebenarnya, untuk menulis menyoal prinsip kesalingan dalam pernikahan ilmuku masih cetek sekali. Aku tidak mengantongi teori apapun dan bahkan aku belum menikah. Tapi keresahan dan unek-unek di kepala tentang beban ganda perempuan sudah tidak tahan untuk terus kusimpan di kepala. Ya, beban ganda perempuan. Hal yang lumrah aku lihat pada masyarakat yang mengadopsi budaya patriarki.
Beberapa ibu, yang memilih menjadi perempuan karir (apapun pekerjaannya) harus tetap bertanggung jawab penuh terhadap: Memasak, mencuci baju, mencuci piring, mengepel, menyapu, menyeterika baju, dan banyak hal lagi. Mirisnya lagi, mengurus anak juga dibebankan pada perempuan.
Itulah mengapa, bagiku pernikahan itu hal yang cukup kompleks. Setelah menikah, justru budaya "melayani" laki-laki yang masih lekat kita dengar. Masih jarang sekali aku mendengar bahwa seharusnya setelah menikah yang harus kita jaga adalah prinsip kesalingan.
Hal hal domestik seperti memasak dan sejenisnya masih dianggap kodrat perempuan atau hal yang memang sudah sepantasnya dilakukan oleh perempuan. Tidak peduli perempuan juga ikut panas-panasan kerja di pasar atau seharian cengap-cengap mengajar di sekolah "rumah tampak bersih" tetap menjadi tanggung jawab perempuan.
Aku jadi berpikir begini, apa laki-laki kalau ikut membantu istri mencuci piring akan merasa berkurang ke-machoannya? Apa kalau laki laki yang masak nasi terus jeglekin warm-cook magiccom merasa hilang harga dirinya sebagai bapack-bapack? Hah, no bangetkan? Justru laki-laki akan terlihat suamiable banget, idaman.
Beban ganda (double burden) yang dirasakan perempuan seperti ini seharusnya bisa di mengerti banyak orang. Nggak cuma laki-laki saja, tapi perempuan lainnya juga. Karena tidak jarang juga aku mendengar, justru perempuan nggibahi, ngatani, dan menanyakan macam-macam sama perempuan lain kalo ngeliat lai-laki ikut nimbrung di dunia perberesan rumah.
"Lha kok suamimu nyuci baju, kerjaanmu ngapain aja?"
"Istrimu malesan ya, sampe kamu yang masak?"
Lahdalah. Aku nggak tau sih, kalau misal nanti aku yang ditanyai begitu musti kujawab apa. Palingan tak respon: cangkemmu!
Lah, tiba-tiba aku teringat potongan lirik lagu yang nggajel banget di hatiku:
Awak dewe tau duwe bayangan
Besok yen wes wayah omah-omahan
Aku moco koran sarungan
Kowe blonjo dasteran
Bayang omah-omahan kok awakmu ongkang-ongkang moco koran, terus aku blonjo neng warung tuku sayuran ngge masak ngunu? Aduh. Blas, ora enek romantis-romantise.


13 comments
Terhura aku😭😭😭
BalasHapusAduh bingung harus nge-reply gimana wkwk. Terima kasih sudah membaca 😚
HapusMewakiliii bgt.. Aku juga heran kenapa laki-laki yang bisa masak dinilai ga maskulin.. Padahal menurut ku laki-laki dan perempuan harus sama-sama bisa, mau, dan ngerti soal pekerjaan rumah.. Terimakasih sudah menuliskan ini.. Bisa di kemas dengan keren!
BalasHapusHaha, iyakan? Banyak yang masih menganggap "lakik kok masak,". Btw, terima kasih sudah membaca 🤗
HapusMau klik like, lope banyak banyak kok Ndak ada ya😂
BalasHapusWahh, terima kasih banyakk 🤗
HapusTulisan yang keren. Ya begitulah adanya budaya di Indonesia. Tapi, saya seorang suami dan ayah yang melakukan semuanya secara setara sama istri. Saya kerja iya, masak iya, nyuci baju iya, nyuci piring iya, momong anak jelas karena saya wiraswasta istri wanita karir yang sibuk. Kalau istri ke kampus 2 anak jelas saya yang ngrawat tanpa ada rewang. Istri pulang kerja ya gantian istri yang main sama anak. Istri juga gantian masak, nyuci baju, piring, dll. Kalau bagi saya dan istri, menikah itu untuk saling berjuang bersama, semua setara, semua saling support. Dan yang paling penting, anak harus diurus sendiri. Karena "buatnya" bareng mosok yang ngasuh baby sitter atau mem-baby sitter kan simbahnya anak-anak. Tapi ini prinsip pribadi ya, tanpa mendeskreditkan prinsip orang lain. Tiap orang juga punya situasi, keadaan, dan previlage beda-beda. Jadi ya harus saling respect. Hehe. Sekian, lanjutkan menulis mu mbak. Sukses selalu ya.👍
BalasHapusWahh kerenn sekaliii 😆😆
HapusMantappp kakak😍
BalasHapusThank youu adikkk. Ayukk rajin nulis, untuk merawat ingatan wkwk
HapusHanya orang yang di bekali ilmu yang ngerti kayak gni, kalo mau ada perubahan ya dimulai dr yang ngerti dlu. Kalo mau ngerubah yg udah ada, kelamaan kayak nunggu EXO comeback🙃
BalasHapusBy the way
Ayah aku kayak gtu
Keluargaku bangun subuh semua, ayh ke masjid, ibu dan anak anak sholat dirumah, plg dr masjid ayah nyuci motor sambil beresin depan rumah plus nyapu halaman rumah, aku nyapu dalem rumah dan beresin tmpt tidur dll, ibuku masak, pokoknya bagian dapur deh, karna memang ayah dan aku harus sarapan dan bontot untuk berangkat kerja
Sore plg kerja, krna emng pekerjaan rumah tangga gaada beresnya, dan ibuku juga kerja dirumah (atas izin ayahku) rumah udh kotor lg dongs pastinya
Ayah markirin motor, sekalian nyapu depan rumah(lagi) terus beresin gudang/kebun
Aku nyuci baju dan nyapu rumah
Ibu seperti biasa, masak lgi
Adil kan?? Kerja sama nya ada
Trus dimana problem nya???
Ada tetangga yg nyeletuk
“Melase seng lanang balek kerjo lngsung nyapu, anak e ratau metu beres beres, bojone yo kerjo mbarang, opo kurang duite??”
What the fucckkkkk😑
Shut your freakin mouthhhhhhh
Pdhl anaknya beres beres bagian dalem, dan ibunya juga emng ada kerjaan biar ekonomi ttp stabil lagi lagi itu atas izin suaminyaa😊
Dasar, assholeeee😊
Inspiring story, heuheuuu ♥️
HapusGood perspective
BalasHapus