Melambat dan Nggak Jadi yang Pertama, Itu Nggak Papa!
No one knows for sure what tomorrow brings you!
Kuawali tulisan ini dengan kalimat yang aku percayai sejak dulu. Ya, kita sebagai manusia nggak pernah tau dimana semesta akan membawa kita. Hahaha, entahlah mengapa aku justru sibuk menulis ini, padahal skripsiku belum ada perubahan apa-apa.
Mungkin karena aku sedih? Sedih menyadari bahwa dititik ini, aku belum menyelesaikan skripsiku.
Seminggu ini aku sibuk menyesal, menyesali mengapa aku memutuskan bekerja terikat waktu, hingga dua bulan tidak bimbingan. Banyak alasan mengapa aku memutuskan bekerja yang non freelance. Pertama, karena saat itu aku benar – benar butuh titik jeda dari skripsi. Kedua, tentu saja aku ingin mandiri secara finansial.
Aku ingin belajar melambat, tidak merasa dikejar atau terburu-buru mengejar sesuatu. Aku pernah dipatahkan oleh ekspetasiku terhadap diriku sendiri dan itu sangat menyakitkan. Aku ingin belajar melambat, aku ingin belajar menikmati bahwa segala hal tidak harus selalu mengejar yang paling baik.
Selama hidupku, ini adalah kali pertama aku menyadari aku begitu lambat. Aku tidak tahu sesak sekali menyadari hal ini, tapi disisi lain aku jelas merasakan sifat tinggiku dihajar habis-habisan. Aku seperti disadarkan, bahwa tidak apa apa menjadi lambat. Tidak apa apa untuk tidak selalu punya ambisi. Tidak apa-apa untuk menjadi biasa saja dan tentu saja tidak apa apa menyadari bahwa kita emang nggak sempurna.
Apakah mereka yang menyelesaikan terlebih dahulu adalah pemenang. Apakah lantas aku disebut pecundang? Entahlah.
Minggu, 07 Agustus 2022.
Hari ini kulanjutkan tulisanku, yang aku buat pada Februari 2022. Ya, tulisan diatas adalah kesedihanku lima bulan lalu.
Agustus hari ini, dan aku sudah melewati prosesi yudisium. Sesuatu yang jauh sekali dari bayanganku lima bulan lalu. Sebuah prosesi yang dulu jika aku bayangkan selalu membuatku berpikir, “bisakah aku sampai dititik itu?” tetapi ternyata hari ini aku sudah melaluinya. Oh, jujur saja saat melanjutkan kembali draft tulisan ini seperti ada rasa tidak percaya. Tapi ternyata memang begitu kenyataannya, dan aku tidak berhenti tersenyum saat menuliskan ini.
Lalu apa yang bisa aku pelajari dari proses panjang pengerjaan skripsi ini? Baiklah aku akan mencoba menuliskannya.
Jika Rencanamu Gagal Itu Nggak Papa, Sungguh!
It’s just a bad day, not a bad life!
Entah, aku mendapat kalimat itu darimana. Tapi setiap kali membaca dan menuliskannya kembali, rasanya bahuku seperti ditepuk dan ditenangkan. Ya, jika rencana – rencana yang sudah kamu susun itu melesat jauh sekali dari apa yang kamu harapkan, sungguh, itu hanya rencanamu yang gagal bukan hidupmu!
Kita hanya manusia yang kemampuannya hanya sekedar ‘menyusun’ dan berusaha dalam versi terbaik kita. Sedangkan, kadang mau nggak mau ada faktor lain yang cukup mengurus energi dan pikiran kita.Sehingga rencana yang sudah kita susun rapi, menjadi buyar begitu saja. I don’t know what about you, but kurasa kamu juga punya alasan – alasan sendiri mengapa rencanamu melesat jauh.
Tapi kamu tahu, meleset dari rencana yang kamu buat kadang nggak seburuk itu. Akan selalu ada pelajaran-pelajaran penting yang bisa kamu ambil. Secara pribadi hal yang bisa aku pelajari adalah menyadari bahwa wajar loh rencana itu gagal. Gapapa loh, temen – temen lulus duluan. It’s oke dan nggak ada yang salah sama itu semua.
Kamu lulus terlambat bukan karena kamu males-malesan, kamu belum wisuda nggak berarti kamu nggak berjuang. Nggak, nggak kayak gitu. You more know about yourself.
Dan kamu tahu nggak, barangkali mereka yang bisa lulus duluan itu udah pernah belajar dilevel menerima kegagalan itu hal biasa or maybe mereka bakal nemuinnya nanti diwaktu yang akan datang. Lulus telat ternyata nggak semenyedihkan itu kok. Iya, nggak ada yang sepeduli itu dan dunia tetap akan berjalan seperti biasanya.
Begitu pun kalian yang hari ini entah dititik mana. Nikmati prosesnya, ambil pelajarannya. Rencana gagal itu hal biasa yang dialami manusia. So, now, hug yourself. It’s okay, it’s not a big mistake. It’s something that can happen to anyone.
Nggak Ada yang Salah Menjadi Biasa Saja.
Mungkin udah kodratnya manusia kalik ya, pengen semuanya berjalan sesuai keinginan dia. Pengen jadi center of attention, pengen jadi yang paling pertama, yang paling beda, dll. Yaa, nggak ada yang salah sih. Mungkin bakal jadi salah kalau semua itu nggak terwujud, terus kita nyalahin diri sendiri.
Kamu tahu nggak, aku pernah dititik bener – bener frustasi sama diriku sendiri karena skripsi dan aku nulis kurang lebih gini dibuku harianku:
Apakah berjuang itu harus tidak tidur?
Apakah berjuang itu harus tidak istirahat?
Apakah berjuang itu tidak boleh merasa capek?
Aku tahu itu masa-masa paling sulit dihidupku. Aku hidup dengan ambisi yang kuat. Aku tumbuh dengan banyak keinginan keinginan dan ekspetasi untuk selalu jadi yang terbaik. Tapi proses pengerjaan skripsi benar benar menjatuhkan aku pada keadaan yang benar benar menyedihkan: aku tidak mempercayai diriku sendiri, aku membenci diriku sendiri bahkan aku membohongi diriku sendiri.
Saat menulis itu aku denial sekali dengan keadaanku yang lelah dan kurang istirahat. Aku menyangkal bahwa aku memang lelah. Aku justru mengatakan pada diriku sendiri, bahwa aku terlalu malas dan hal seperti itu justru membuat aku terpuruk semakin dalam.
Aku lupa, bahwa menjadi biasa saja pun tidak apa apa. Lambat, dan tidak menjadi yang pertama pun tidak ada salahnya. Setelah kupikir-pikir setelah ada dititik ini, moment tidak aku lupakan justru getir manis perjuanganku menyelesaikan skripsi bukan pada pencapaianku sudah yudisium dan akan segera wisuda.
Ya, cuma kamu yang paling tahu dirimu sendiri. Cuma kamu yang tahu, dan orang lain nggak. Menjadi penuh ambisi itu bagus, tapi menjadi biasa pun nggak papa. Nggak ada yang salah, justru dititik paling sadar kita akan memahami bahwa kesempurnaan sesuai persis seperti yang kita mau itu mustahil terwujud.
Istirahatlah, jika memang butuh jeda. Pilah prioritas, dan kembalilah berjalan. Kalau lelah, I will send a warm hug to you!
Penuh Cinta.
Dari perempuan yang ingin menemanimu tumbuh dan berbahagia.
%20(3).png)

0 comments