Review Buku: The Alpha Girl's
“Hidup terlalu remeh hanya untuk memikirkan cinta terhadap pacar. Bertemanlah sebanyak-banyaknya. Cintai dan kenali dirimu sendiri dulu, lakukan hobi positif apapun yang bisa menambah skill kamu. Kamu nggak menyesal jika sudah memaksimalkan kemampuanmu.” (hlm. 82)
Membaca judulnya saja “The Alpha Girls” sudah membuat saya tertarik. Bahkan sejak dulu buku ini menjadi salah satu dari daftar buku yang harus saya baca sebelum aku merasa tua-tua amat, haha. Tapi ternyata setelah membaca buku ini, ekspetasi saya terhadap buku ini salah. Buku ini ternyata nggak cuma harus saya baca, tapi juga harus saya rekomendasikan dengan teman-teman perempuan saya di luar sana. Rekomendasi untuk teman-teman perempuan yang bener bener pengen pengen jadi cewek smart, independen dan anti galau. Serius! Bahkan saya merasa memiliki tanggung jawab moral tersendiri untuk buat review dan ngerekomendasiin buku ini buat banyak orang. Haha!
Here
we go!
Secara garis besar, saya menyebut alpha girl sebagai perempuan yang memiliki pengaruh. Memiliki value dan prinsip, sehingga ia nggak mudah jatuh dan patah karena orang lain dan standar masyarakat dalam lingkungannya. Percaya diri dan mampu mengoptimalkan potensinya. Perempuan yang bersungguh-sungguh, dihormati dan disegani karena kebaikan hati, prestasi dan attitudenya.
Seorang alpha girl tahu caranya bersungguh-sungguh. Dalam hal pendidikan contohnya, Alpha girl tidak melihat sekolah dan pendidikan hanya sebagai sebuah fase hidup, atau kewajiban yang diperintahkan orangtua tetapi bagi alpha girl pendidikan adalah bekal untuk kelak bisa mandiri didalam situasi apapun.
Apa alasan seorang alpha girl menganggap pendidikan itu penting? Karena ia hendak menjadi perempuan dewasa yang cerdas, siap mendukung suami, dan siap mandiri dalam segala situasi hidup.
Seorang alpha girl juga tidak menderita princess mentality yakni sebuah mental yang merujuk seperti kisah kisah dalam dongeng. Menemukan pangeran kuda putih yang datang menyelamatkannya (menikahi), kemudian tugas sang pangeran menafkahinya ia hanya duduk manis diistana. Padahal kehidupan itu serba nggak pasti.
Saya tidak perlu hanya menunggu pangeran berkuda. Saya sudah punya kuda sendiri, terima kasih (hlm. 26)
Lalu bagaimana kehidupan percintaan seorang alpha female? Bagi seorarang alpha female kehidupan asmara adalah bagian yang penting dalam hidup tetapi bukan yang terpenting sampai mendominasi segala-galanya. Ya, bagi alpha female percintaan bukan satu-satunya yang penting dalam hidup. Alpha female punya hal lain yang tidak kalah penting seperti keluarga, karir, teman-teman, hobi dll.
Mereka menikah karena sudah menemukan orang yang tepat diwaktu yang tepat, bukan hanya demi status atau menyelesaikan masalah pribadi. Alpha female menikah karena merasa sudah menemukan laki-laki yang jika bersamanya dia dapat tumbuh menjadi lebih baik. Lalu bagaimana seorang alpha female memilih pasangan? Bagaimana kehidupan karir mereka? Bagaimana penampilan mereka?
Benar sekali! Disinilah menariknya buku ini, menawarkan berbagai perspektif kepada perempuan menngenai hal hal yang bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menjalani hidup, menyadari kekuatan, dan memaksimalkan potensi mereka.
Ya, sekeren itu buat dibaca! membuat pembacanya menemukan titik semangat yang luar biasa, menginspirasi, memotivasi, dan tentu saja bisa dijadikan teman untuk melewati hari-hari yang penuh tidak kepastian.
Keterangan
buku:
Judul: The Alpha
Girl’s
Penulis: Henry
Manampiring
Editor: Alaine Any
Penerbit: GagasMedia
Terbit: 2020
Tebal: 264.hlm
ISBN:
978-979-780-9546


0 comments