Nikah Muda? Alasannya ...



Entah kesambet apa tetiba saat nyuci piring tadi pagi aku mendapat ilham untuk menulis tentang pernikahan. Memang ya, ide itu datangnya suka ngagetin, sebelnya pada saat kita nggak memungkinkan untuk menulis. Giliran disuruh-suruh dateng, sejaman masih aja yang dilihat lembar Ms. Word yang kosong, bersih.

Barangkali, karena aku kemarin baru saja membaca tulisan Afi Nihaya Faradisa, gadis yang terkenal karena tulisan "Agama Warisan"nya.

Perihal pernikahan, dan ku pikir ya benar juga tulisannya.

Nikah itu bukan perkara sembarangan ku pikir, bukan budaya. Karena bukan perkara sembarangan, maka gerakan seperti nikah muda de el el dan semacamnya ku pikir terlalu apa ya terlalu menganggap sepele pernikahan. Menganggap menikah adalah solusi dari banyak hal, heuh.

Suatu kali aku pernah mewawancarai (hiyah) seorang perempuan. Aku tanyakan padanya, apa alasannya dulu ingin menikah padahal usia masih 20 taun.

"Ya karena dulu saya pikir nikah itu enak, bangun tidur mandi, masak. Suami berangkat kerja, cium tangan. Terus nunggu suami pulang,"

Hiyahhh .. Apakah begini yang dipikirkan orang orang yang menikah muda. Ini kehidupan nyata, bukan sinetron hiyalahhh. Sedih akutu dengernya. Kehidupan setelah menikah tidak sesederhana itu, ah pikiranmuu.

Dia yang aku lihat ikut pontang-panting nyari pekerjaan, yang masih saja merepotkan orang tua untuk kebutuhan ini itu, suaminya yang ternyata belum dewasa, dari yang memang ia dan suaminya beda suku seringkali cekcok karena hal sepele de el el seabrek kerumitan hidup lainnya.

Saya menulis ini bukan untuk mengumbar, saya tidak menyebutkan nama siapapun disini. Tapi saya benar benar bertanya padanya, dan melihat dengan dekat kehidupan keluarganya. Tulisan ini hanya sebuah contoh untuk dijadikan pembelajaran. Barangkali diluar sana ada jutaan masalah yang sama seperti ini,bahkan lebih rumit lagi.

Suatu hari tanpa di minta ia berkata padaku, "tidak perlu kamu cepat-cepat menikah. Nikmati masa mudamu dahulu,". 

Walah, dari sini aku bisa menarik kesimpulan bahwa ia sedikit atau banyak menyesal sudah menikah muda. Aku tidak menjawab, takut menambah kegaloan hatinya.

Abang, Adek, Mbaa ..

Menikah tidak sesederhana itu. Menikah bukan perkara siap batin saja, tapi juga lahir. Menikah bukan tren, bukan ajang gengsi-gensian atau lomba. Menikah itu perkara kamu akan melewati hari sampai tua dengan siapa dan bagaimana, termasuk bagaimana nantinya kamu bakal mbimbing atau dibimbing seseorang atau lebih untuk menuju kehidupan setelah di dunia.

Setelah menikah, menjadi seorang Ibu atau Ayah juga bukan perihal sederhana. Kedua sebutan itu punya tanggung jawabnya masing - masing. Tanggung jawab yang nggak kecil, dan tidak bisa disederhanakan begitu saja.

Seperti sudahkah kau punya pekerjaan yang bisa mencukupi keluargamu nantinya?

HEYY

ini bukan perkara saya materialistis atau terserah kau sebut apa. Pertanyaan semacam ini ku pikir rasional ditanyakan wanita (tentu saja bukan wanita yang lagi bucin-bucinnya, heuh). Seperti juga pertanyaan, siapkah kamu meninggalkan hobi nongkrong - nongkrong tidak jelas dengan temanmu digantikan dengan berkumpul dengan keluargamu? Ini pertanyaan untuk laki - laki.

Kemudian untuk perempuan, sudah bisakah kau masak, terbiasa bangun pagi, membereskan rumah? Hiyalahhh mbak- mbak masak aja masih suka keasinan, mbedain kunyit sama jahe aja belum bisa, lah mau nikah. Please mba, jangan bersembunyi pada alibi nantikan ya belajar klo udah nikah. Please mba, jangan.

Mas, mas, Mba, Mba, nanti anakmu juga perlu kau ajari banyak hal, heuh. Bukan sekedar dongeng pertemuan kalian berdua.

Menikah juga tentang penerimaan keluarga. Menikah itu juga bukan hanya soal kamu dan dia, tapi peenikahan dua keluarga.

Jadi, berpikir untuk menikah karna sudah siap saja perlu dipertanyakan. Siap yang bagian mana? Bukan hanya siap menikah untuk menghadap penghulu, tetapi kesiapan setelah menikah.

Lahir dan batin ..

Siap mental, materi, hati,
Siap dibimbing dan mbimbing,
Dan banyak hal lainnya

Lah kalo keduanya belum sama sama punya kesiapan, siapa yang mau mau sabar-sabaran mbimbing dan dibimbing.

Terus apa lagi ya, perihal menikah muda untuk menghindari zina? Hiyah aku mending putar arah saja untuk tidak membahas. La tujuan menikah itu sebenernya apa si kok menikah biar menghindari zina. Seks?

Aduh udah, udah aku mending ga bahas-bahas ini deh.

Salam,

0 comments