Aku, Gilimanuk dan Anak Laut
Dari banyak hal di sekitarku aku seringkali bertanya - tanya pada banyak hal. Tentang bagaimana orang lain menjalani hidup, dan bagaimana cara mereka agar tetap hidup.
Barangkali aku terlalu lugu untuk banyak hal, atau aku terlalu ingin tahu? Hari ini, diatas kapal dari pelabuhan Gilimanuk menuju Ketapang, 18:35 WITA, aku ingin menulis. Barangkali, suatu saat nanti aku butuh seseorang untuk kuajak diskusi, nanti.
Saat menunggu kapal tadi, aku melihat banyak orang berenang di bawah laut untuk mendapatkan koin - koin dari calon penumpang kapal. Ya, aku ingin menanyakan banyak hal. Awalnya aku merasa risih saat orang - orang melemparkan koin. Entahlah, aku hanya merasa dengan cara seperti itukah kita berbagi rizki? Sepanjang itu aku hanya mengamati.
Kemudian disana, ku lihat juga tiga anak laki - laki yang bisa ku tebak masih seumuran anak sekolah menengah pertama.
Aku ingin rasanya bertanya pada mereka,
Halo, kau siapa? Koin yang kau kumpulkan untuk apa? Tidakkah dingin dibawah sana?
Aku senang jika jawaban mereka hanya untuk bersenang - senang, karena kata salah seorang teman mereka adalah anak laut. Jadi aku sedikit berpikir, mungkin laut sudah menjadi sahabat, dan dingin adalah pelukan erat.
Sudah biasa ditemui memang, di dermaga banyak ditemui bapak - ibu, berjualan berbagai makanan. Hari ini aku ingin bertanya, seberapa jauh mereka berjalan kesana - sini sepanjang hari ini? Tidakkah lelah? Melihat seorang bapak yang menawarkan makanan cepat saji, tiba - tiba aku ingat bapak di rumah.
Pak, apa setiap orang tua berlelah lelah seperti itu demi anak - anaknya?
Sebelum sampai ke daratan, aku ingin meninggalkan Pulau Bali dengan rasa syukur.
Bali, aku ingin meluruhkan banyak hal.
Bali, jika suatu masa aku kembali padamu, izinkan aku membawa dan melepas cerita baru.


0 comments