Untuk Kamu : Yang Akan Menemaniku Hingga Menua





Untuk kamu, yang akan menemaniku esok hingga menua.

Ucapan pertama, jangan pernah cemburu ya. Jika hari ini kau masih saja menebak - nebak siapa "kamu atau dia" yang selalu menjadi Tuan dalam setiap puisi dan cerita yang aku tulis.

Untuk kamu, yang akan menemaniku hingga menua. Bahkan, saat menuliskan ini aku benar benar tidak tahu kau siapa, dimana, dan apa yang sedang kau lakukan. Ah, bukankah serba tidak tahu seperti ini justru terlihat manis?

Untuk kamu, yang akan menemaniku hingga menua. Jika kamu membaca ini, aku ingin kamu membacanya dengan tersenyum. Karna aku benar - benar sudah jatuh cinta padamu, bahkan sebelum aku menemukanmu.

Aku tidak pernah peduli, hatimu hari ini milik siapa. Atau siapa yang detik ini sedang duduk manis menemanimu. Aku tidak akan peduli. 

Aku hanya ingin menjadi tempatmu pulang. Menjadi satu-satunya yang kau bawa dalam langkah dan larimu. Satu - satunya dan yang terakhir.

Kamu yang akan menatapku hangat dan menggenggam tanganku erat saat aku berkata, "Aku takut,".

 Aku ingin saat aku mengucapkan itu, kau menjadi penguat, menjadi seorang Kakak atau Ayah. Kemudian aku ingin kamu menjawab bahwa semua akan baik baik saja. Aku ingin kau menemaniku sampai akhir.

Siapapun kamu, yang kelak akan menemaniku hingga menua. 

Jika kau hari ini, misalnya, sudah mengenalku tolong jangan tertipu. Ada banyak hal yang tidak kamu mengerti secara gamblang tentang kehidupannku. 

Mulai hari ini biar ku katakan saja, tolong jangan anggap aku serba bisa. 

Aku benar benar hanya seorang gadis rapuh yang bertopeng wajah kuat. Jadi, jika kita saling bertemu nanti bolehkah aku menunjukan sisi lemahku dihadapmu? Disepanjang hidupku aku terlalu sering menyembunyikan banyak hal, jadi sudikah kau kelak jadi pendengar?

Aku ingin kamu menjadi penyemangat untuk semua mimpi - mimpiku. Bagaimana aku menyukai dunia anak-anak, belajar, perpustakaan, puisi, buku - buku,  dongeng, guru. Entah bagaimana Tuhan nanti akan merajutnya, aku selalu  ingin memeluk hal itu semua.

Aku ingin kamu menjadi temanku berdiskusi untuk remeh temeh yang mengusik akal dan naluriku.

Sampaikan pada Ayah Ibumu, aku mencintai beliau juga. Tak usah khawatirkan apapun. Kelak jika mereka tua, dan aku diberi izin untuk tinggal bersama mereka dengan senang hati aku akan merawatnya.

Sekali lagi, jangan pernah cemburu ya. "Kau atau Kamu" dalam bait puisi atau cerita hanya diksi pemanis. Tidak lebih.


Terima Kasih, Tuan. Sudah mencoba mengerti ..

0 comments