Menikamati Detik: Nanti, 5 tahun lagi dimana kita semua?
Tak ada yang abadi. Pernah dengar lagu itu? Ya, kalau pernah dengar berarti kamu nggak cupu pada masanya. Benar, tidak ada yang abadi di dunia ini. Kecuali cinta ibu pada anak-anaknya.
Siapa yang ada disekelilingmu hari ini akan berubah suatu hari nanti. Siapa yang ada dilingkaranmu hari ini, mereka yang tak tertebak wajahnya pada dua atau lima tahun sebelumnya.
Tiga atau lima tahun lalu kamu mengakrabi orang yang berbeda dari hari ini. Jadi, tidak menutup kemungkinan jika tiga atau lima tahun lagi kamu akan bersama orang orang yang berbeda pula.
Jadi, aku hanya ingin menikmatinya. Karena aku juga paham sekali, bahwa setiap masa punya warna dan setiap warna punya masanya. Aku tidak ingin menebak-nebak apa maksud Tuhan mempertemukan aku dengan mereka yang pernah ada dalam lingkaranku. Barangkali untuk mengusap airmataku, menertawakan kebodohanku, menguji marahku, menguji sabarku, ikhlasku atau apapun itu aku hanya percaya Tuhan mempertemukan aku dengan mereka tidak hanya iseng-iseng saja. Tuhan punya maksud, dan baik. Sebaik apa itu, biar Tuhan saja yang tau. Aku hanya menjalaninya.
Siapapun kalian, yang pernah dan hari ini ada dalam lingkaranku: Terima Kasih. Terima kasih banyak untuk mejikuhibiniu yang tidak pernah aku tebak sebelumnya (dan memang aku tidak ingin menebak). Kalian yang tidak ada hubungan darah sama sekali denganku, terima kasih banyak sudah menganggapku lebih dari apa yang aku minta.
Terima kasih sudah melukis merah, jingga, biru.
Nanti, kalau jauh, biar aku tetap bisa menatap warnanya dilangit sana. Karena aku sudah melukisnya. Lukisan bahwa aku pernah punya kalian semua. Orang - orang yang sudi jadi guru, teman, saudara dan kakak.
Aku menyayangi kalian semua.
Nanti (barangkali) seusai ini, hanya bersapa lewat group whatsapp atau jejaring media sosial lainnya. Jika memang kenyataannya jauh, tidak usah berdalih . Seperti dulu dengan teman - teman SMA juga yang akrab lahir batin misalnya, janjinya "sering2 ketemuan ya nanti, atau kabaran,". Nyatanya, janji hanya janji. Bertemu hanya saat liburan semeter, bukber atau dikondangan. Itu saja kalau tidak ada cancel dadakan.
Apapun nanti, aku hanya ingin memiliki cerita yang bisa aku kenang dengan kalian hari ini.
Terima kasih untuk dua wanita cantik, yang pernah mengajariku berenang hampir setiap hari meski sampe sekarang aku tetap saja tidak pernah bisa berenang.
Terima kasih, gadis manis yang dari dulu sampe sekarang hidupnya penuh angka. Kala itu, sregep sekali mengajariku matematika. Meski sampe sekarang mapel itu masih saja jadi hal paling aku benci. Semangat kuliahnya.
Terima kasih juga untuk (Hashhhh), sudah memperkenalkanku pada patah, luka dan seabrek keambyaran lainnya.
Terima kasih untuk perempuan bermata sipit, Laki - laki yang sudah berjenggot tapi childish eh tapi sering kumintai nasehat, terima kasih yang hari ini sedang belajar di Jogja, terima kasih untuk laki - laki yang dari jaman dulu sampe sekarang jika aku pulang selalu yang mengantarkanku kemana-mana. Semoga Tuhan menyayangi kalian semua. Kalian orang - orang luar biasa yang mampu meluluhkan hati orang tua ku hingga pulang larut malam, hahahahhahaha ..
Untuk kalian yang hari ini masih jelas ku pandang, mari membuat cerita.
Agar nanti, satu, dua atau lima tahun lagi aku punya amunisi pereda rindu. Hashhhh ....
Sejujurnya aku tidak suka menulis ini, tapi mau bagaimana lagi. Toh, memang realitanya seperti di awal paragraph, tidak ada yang abadi.
Perihal Kalian: Nanti, jika rindu bertandang aku harus bagaimana? :"



1 comments
'Dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariku, dan supaya kamu di asuh di bawah pengawasanku.'(Qs thaahaa:39)
BalasHapusJika rindu bertandang?🥰
Menikmati dengan bijak momen tersyahdu yang kerap menyayat kalbuku. Menurutku, tak pernah ada rindu yang sederhana. Tak menjamin rindu itu akan tertuntaskan karna sebuah pertemuan, atau akan sirna dengan mudahnya seiring berjalan usia. Cukup ku nikmati momen ini dengan penuh hikmat dan rasa bijak saja. Mungkin Tuhan akan menilai suatu saat, rindu yang Ia titipkan di hati hambanya merebak harum menumbuhkan kesetiaan tak bertara, karna padanya adalah perantaraku untuk menghamba. Dan karna ku percaya, tak mungkin rindu datang tiba² tanpa perencanaan-Nya. -@mìsae_gemæ-