[Review] Novel Paradigma — Syahid Muhammad

(Dok. Istimewa)


Liburan semester genap, menuju semester enam. Dimana semeter enam adalah awal — dari segala hal, mahasiswa, akan lebih sering datang ke gedung fakultas, perpustakaan, menemui Kepala Jurusan untuk mengajukan judul dan lain-lainnya.

Entahlah, selama aku masih bisa menandaskan hobiku, everything is ok!

Baik, curhatnya sudah ya.

Paradigma,
Sebuah novel yang sama sekali tidak tertebak endingnya — karena setiap kali berganti lembar, dan aku mencoba menebak alur selanjutnya, selalu saja salah.

Pada bagian awal, —aku perempuan tetapi aku dibuat jatuh cinta oleh sosok Anya. Periang dan tidak ambil peduli bagaimana mata dunia melihatnya. Walau dibagian-bagian tengah, aku seolah menjelma Ola, —yang tidak suka lelakinya dibuat bahagia dengan wanita lain. Bagian yang  aku lebih tertarik untuk membenci Anya, karena sudah tidak tahu diri, berani jatuh cinta pada Rana.

Paradigma, menciptakan renungan - renungan baru dalam sebuah hubungan. Barangkali, —atau sudah tentu saja,— kamu akan dibuat jatuh cinta dengan pemikiran pemikiran Rana, yang terdengar egois namun jika dinalarkan lebih dalam apa yang dia katakan adalah benar.

Dialog - dialog Anya dan Rana dihalaman 14, jangan tidak percaya, saya baca berulang - ulang. Menohok. Perempuan perempuan atau laki - laki —yang biasanya, kita akan saling berdebat, saling cemburu, dan begitu protektif jika pasangan kita menjalin pertemanan atau komunikasi yang baik dengan orang lain. Yah, —seolah, kekasih kekasih kita adalah haram untuk berinteraksi dengan "gender" lain.

"Kelakuan orang - orang yang takut kehilangan cuma buat mereka bener bener kehilangan" — Rana.

"Bagiku satu - satunya yang akan kulakukan kalau aku takut kehilangan seseorang adalah, dengan berusaha pantas untuk tidak ditinggalkan," — Rana.

Selain kisah cinta Anya, Rana dan Ola aku juga dibuat jatuh cinta dengan dunia Felma dan Ikral. Dua sejoli ini selalu memiliki ritual berdua untuk memaknai kehidupan —sumpah uey, dibagian ini gua baper dan tetiba pengen ngutuk kejombloan ini, heuh. Ritualnya bisa ditiru, saling menceritakan pengalaman atau emosi yang bisa ngubek - ngubek perasaan. 

"Sekitar empat hari lalu, aku ketemu bapak bapak ditempat belanja. Dia kayak cleaning service gitu. Dia senyumin semua orang yang keluar masuk toilet. Dadaku kayak diubek - ubek, sedih. Aku benci perasaan kayak gini,"

"Aku sengaja balik lagi ke toilet buat nyalamin dan nyelipin uang buat bapak itu. Terus aku bilang 'jangan lupa makan, ya, pak,"

"Terus gimana perasaanmu setelah itu?"

"Lega. Lega banget,"

"Kamu beruntung punya emosi seperti itu dalam diri kamu,"

Bagi Ikral, apa yang dialami Felma adalah pesan pendewasaan yang hanya akan dimaknai oleh orang orang yang hatinya terbuka, jiwanya disayangi Tuhan. Sebab bagi Ikral, beruntunglah hati orang orang yang hatinya bergetar setiap kali mendengar nama Tuhan dan yang melihat orang kesusahan meski tak nampak.

Hehe, romantis ya. Manis juga ...

Kemudian, kita akan diajak mengetahui sesuatu yang rumit. Mengenai Dissasociative Identity Disorder yang dialami Rana. Disini, aku jadi tahu kalau seseorang itu bisa aja memiliki dua atau lebih kepribadian, dan bagaimana seharusnya kita bersikap dengan mereka.

Novel ini bener - bener bisa mengobrak abrik pemikiran dan perasaan. 

Tapi, dipenghujung novel, ketika aku telah siap menutup cerita satu pemikiran terlintas dibenakku.

Bagaimana teori - teori Rana mengenai sebuah hubungan, toh cerita akhir Rana dan Anya makin dekat. Jadi, ya Ola benerkan? Kenyamanan yang diberikan orang lain itu berbahaya HAHAHA.

Salam, semangat membaca!





0 comments