Juni tahun ini terlalu lelah untuk aku yang terbiasa menunda waktu dan senang haha hihi. Entahlah, meski begitu aku tetap berprinsip : menikmati banyak hal dengan berbahagia, karena jalan tumbuh setiap orang berbeda cara dan waktunya.
Ngeluhku setiap waktu, bohong jika aku
sepenuhnya menikmati dengan bahagia. Tapi setidaknya jika rasa muak
menjumpaiku, ada amunisi yang kubuat sendiri : May kamu kuat. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, kalian
berbeda. Kalian tidak berproses tumbuh pada hal yang sama.
Ini adalah tulisan untuk menutup Juni, terlalu kasihan jika kututup bulan ini tanpa menulis apa apa. Hari ini aku acc dari dosen pembimbing satu, setelah tiga kali bimbingan dan Metro sedang hujan – hujannya.
“Salam. Silakan diambil secepatnya”,
tulis beliau melalui chat pribadi disertai gambar kertas bertuliskan acc for seminar proposal. Bahagia, teriak dan jingkat - jingkat aku pastinya. Segera kubalas pesan itu dengan kalimat kesediaan, padahal saat itu belum mandi dan bajuku masih klumuh usai ngepel dan mencuci baju.
Sejujurnya,
hal yang bagiku lebih menakjubkan dari kata seminar proposal adalah kenyataan
bahwa aku bisa melewati semua ini. Tidak terhitung berapa banyak waktu yang
kuhabiskan dengan penuh ketakutan, ngeluh sana sini di media sosial, bisakah aku mengerjakan skripsi yang full English
itu, apa yang harus kulakukan sebagai awalnya, bagaimana ini dan itu banyak
sekali pertanyaan ada dikepalaku. Ya, jadi hal menakjubkan itu adalah akhirnya aku
bisa melewati ketakutanku.
Untuk kamu,
Tidak
apa apa, yang hari ini baru akan memulai atau sedang nyicil. Sungguh tidak apa apa, asal
kamu tahu bahwa kamu berjalan meski lamban, sungguh tidak apa apa. Kamu hanya
perlu menikmati prosesnya, memaknai hal bagian mana yang bisa kau ambil
pelajaran dari moment garap proposal
ini.
Maksudku
begini, tidak perlu membandingkan dirimu dengan teman – temanmu yang untuk
mendapatkan acc begitu mudah, tidak perlu membandingkan dirimu dengan teman –
temanmu yang sehari mampu bolak balik bimbingan sampai tiga kali. Menurutku,
tidak perlu. Kamu boleh merasa termotivasi, tapi jangan terburu – buru hingga
tidak menikmati proses.
Teman – temanmu yang mendapat acc mudah, barangkali itu hasil upaya mereka takzim dan manut dengan semua dosen bahkan sebelum mereka mengajukan judul skripsi. Itu balasan dari alam. Proses tumbuh, belajar takzim dan manut lebih dulu mereka lalui. Jadi struggle mereka oleh alam nggak lagi dikasih pelajaran takzim, karena mereka udah lulus dari sana.
Barangkali proses tumbuh mereka ada pada hal lain. Belajar tumbuh biar nggak sombong misalnya atau belajar jujur melalui semua data yang mereka pakai. Kita hanya perlu memaknai proses dari sudut yang berbeda. Alangkah kecil makna proses itu, jika hanya kita maknai dengan kata acc for seminar proposal.
Ada hal lain disana, yang begitu manis kalau kita maknai sebaik – baiknya. Bukankah kita belajar sabar, bukankah kita belajar menempa diri dengan mencoba mengatur waktu dengan sebaik – baiknya, bukankah kita belajar tidak grusa – grusu, dan bukankah kita menjadi lebih sering dekat dan intens dalam merayu Tuhan?
Saya jadi teringat saat dospem dua ku dengan sangat
kebapakan menasehatiku begini, “nikmati
prosesnya tidak usah terburu – buru. Sebenarnya saya gampang, kalau hanya mau
menuliskan acc. Tapi kan tidak begitu, prosesnya. Kalian
berproses melalui ini,”.
Allah,
terima kasih sudah memberiku kesempatan dengan bertemu dua pembimbing yang
menemeniku berproses.
Ya,
tidak sepenuhnya memang aku lalui semua ini dengan bahagia. Ada hari dimana aku
begitu muak dan lelah. Hingga inginku pada Tuhan bukan lagi “Ya Allah,
mudahkanlah”, tapi berganti “Ya Allah, aku pasrah. Kelanjutan
skripsiku, bagaimana hasilnya nanti, aku percaya
itu yang terbaik untukku," . Tapi nyatanya, pasrah justru membuat hati lega. Pasrah justru mengizinkan kita membuang napas dengan lega.
Jika kamu anggap dosen pembimbing itu terlalu sulit ditemui, slow respon tidak apa apa, nikamti saja dengan tetap berbahagia. Kita hanya dilatih untuk sabar, asal prinsipnya satu : jangan berhenti berjalan.
Capek? tidak tahu sih, apakah mengerjakan skripsi harus selalu relate dengan kata capek. tapi sepanjang orang orang yang aku temui, memang itulah yang mereka temui sebelum memakai toga. garap skripsi itu capek dan memuakkan.
Kita sama sekali tidak terlambat. Ini semua bukan akhir, "kalau segala hal tidak sesuai dengan rencanamu itu bukan berarti kamu gagal." atau, yang gagal itu hanya rencanamu, bukan hidupmu. Begini, asal kamu tahu titik tumbuhmu dimana, asal setiap hari kau punya progres itu bukan kegagalan.
Belajar nggak overthingkingan itu juga tumbuh loh. Belajar mempercayai diri sendiri itu juga tumbuh loh. Jadi, proses pengerjaan skripsi jangan disempitkan hanya pada bagian akademiknya saja.
Jadi, tetap nikmati prosesnya ya. Tetaplah tumbuh, mekar dan berbahagia.


3 comments
Love you to the moon and never back 😅
BalasHapusThank you!
HapusWahh
BalasHapus