Perempuan, Pakaian, dan Pelecehan Seksual
“Laki – laki itu kucing, dan perempuan itu diibaratkan ikan asin. Ibaratnya kucing mana sih yang nggak mau kalau ada ikan asin didepannya. Ya, sama kayak perempuan kalo berpakaian terbuka seperti itu. Sama saja dia yang mengundang Si Kucing."
Pernah dengar kalimat yang kurang lebih seperti itu? Analogi yang menurut saya tidak fear dan terlalu mengada-ada. Perempuan mana yang mau disamakan dengan ikan asin? Selain itu, kucing itu hewan dan laki – laki itu manusia. Hewan memiliki nafsu, tapi tidak punya akal. Berbeda dengan manusia mereka punya nafsu, tapi juga dilengkapi dengan akal untuk berpikir. Itu sebabnya saya katakan analogi ini sangat tidak adil. Selain itu menurut hemat saya, analogi tersebut juga merendahkan laki – laki sebagai manusia. Maukah ia sebagai manusia utuh disamakan dengan hewan yang hanya mengurusi nafsu dan tak punya akal untuk mengontrolnya?
Manusia
diberikan akal untuk berpikir, termasuk untuk mengontrol nafsunya agar tidak
seenaknya diliarkan dalam bentuk perbuatan melecehkan. Tapi, Apakah
salah jika seorang laki –laki merasa bernafsu jika melihat perempuan berpakaian terbuka?” Menurut saya pribadi, tidak dan barangkali itu normal laki
laki merasa demikian. Tapi apakah perasaan seperti itu lantas membenarkan
melakukan pelecahan seksual? Sebagai laki - laki yang dikarunia akal, yang tentu saja berbeda
dengan kucing yang cuma punya nafsu, ia seharusnya mampu mengontrol nafsunya tersebut hanya sebatas ‘merasa
bernafsu’ bukan dibenarkan dengan tindakan.
Jika
memang karena pakaian terbuka lantas perempuan disalahkan dalam kasus
pelecehan, betapa mengerikannya dunia ini. Betapa keadilan mengekspresikan
diri tidak bisa dimiliki oleh para perempuan. Dimana hak asasi manusia? Dimana
gaung setiap manusia bebas mengekspresikan dirinya jika berbapakaian saja
dibatasi?
Dari
banyak kasus pelecehan, berapa banyak perempuan yang akhirnya berani speak up. Ketika perempuan berusaha
memperoleh keadilan, justru banyak ditemui pertanyaan menyudutkan semacam “Kamu pakai pakaian seperti apa saat
pelecehan itu terjadi?” pertanyaan seperti itu seolah hal normal dalam
masyarakat mengenai mitos bahwa pakaian berkaitan dengan tindakan pelecehan.
Pada akhir 2018, analisis Survei Pelecehan
Seksual di Ruang Publik yang diikuti lebih dari 62.000 orang membantah paradigma
tersebut. Menurut hasil survey, justru mayoritas korban pelecehan seksual tidak
menggunakan baju terbuka, melainkan celana/rok panjang (18%), hijab (17%),
lengan panjang (16%). Jadi berdasarkan survey tersebut, seharusnya tidak ada
ungkapan ungkapan tidak masuk akal yang menyudutkan perempuan dan menjadikan
cara berpakaian korban sebagai kambing hitam.
Bahkan fakta lainnya adalah korban pelecehan seksual juga anak – anak. Jika pakaian atau tubuh terbuka yang menjadi permasalahan adanya pelecehan, bukankah jelas bahwa anak – anak belum cukup memiliki sesuatu yang “menggoda” hingga dilecehkan?
Dari fakta – fakta diatas seharusnya kita berhenti menjadi masyarakat yang melindungi pelaku pelecehan seksual dengan dalih tidak ada asap kalau tidak ada api apalagi dengan analogi ngawur kucing dan ikan asin.
Jadi satu-satunya cara yang bisa kita lakukan
untuk memerangi pelecehan seksual adalah, lawan!


3 comments
Mantapp sekali hyungg🔥🔥🔥
BalasHapusSiappp
BalasHapusYuk sama-sama jadi teman tumbuh.
BalasHapus