Perempuan, Pakaian, dan Pelecehan Seksual

Dok. Pinterest

 Laki – laki itu kucing, dan perempuan itu diibaratkan ikan asin.  Ibaratnya kucing mana sih yang nggak mau kalau ada ikan asin didepannya. Ya,  sama kayak perempuan kalo berpakaian terbuka seperti itu.  Sama saja dia yang mengundang Si Kucing."

Pernah dengar kalimat yang kurang lebih seperti itu? Analogi yang menurut saya tidak fear dan terlalu mengada-ada. Perempuan mana yang mau disamakan dengan ikan asin? Selain itu, kucing itu hewan dan laki – laki itu manusia. Hewan memiliki nafsu, tapi tidak punya akal. Berbeda dengan manusia mereka punya nafsu,  tapi juga dilengkapi dengan akal untuk berpikir. Itu sebabnya saya katakan analogi ini sangat tidak adil.  Selain itu menurut hemat saya,  analogi tersebut juga merendahkan laki – laki sebagai manusia. Maukah ia sebagai manusia utuh disamakan dengan hewan yang hanya mengurusi nafsu dan tak punya akal untuk mengontrolnya? 

Manusia diberikan akal untuk berpikir, termasuk untuk mengontrol nafsunya agar tidak seenaknya diliarkan dalam bentuk perbuatan melecehkan. Tapi, Apakah salah jika seorang laki –laki merasa  bernafsu jika melihat perempuan berpakaian terbuka?” Menurut saya pribadi, tidak dan barangkali itu normal laki laki merasa demikian. Tapi apakah perasaan seperti itu lantas membenarkan melakukan pelecahan seksual? Sebagai laki - laki  yang dikarunia akal, yang tentu saja berbeda dengan kucing yang cuma punya nafsu, ia seharusnya mampu mengontrol nafsunya tersebut hanya sebatas ‘merasa bernafsu’ bukan dibenarkan dengan tindakan.

Jika memang karena pakaian terbuka lantas perempuan disalahkan dalam kasus pelecehan, betapa mengerikannya dunia ini. Betapa keadilan mengekspresikan diri tidak bisa dimiliki oleh para perempuan. Dimana hak asasi manusia? Dimana gaung setiap manusia bebas mengekspresikan dirinya jika berbapakaian saja dibatasi?

Dari banyak kasus pelecehan, berapa banyak perempuan yang akhirnya berani speak up. Ketika perempuan berusaha memperoleh keadilan, justru banyak ditemui pertanyaan menyudutkan semacam “Kamu pakai pakaian seperti apa saat pelecehan itu terjadi?” pertanyaan seperti itu seolah hal normal dalam masyarakat mengenai mitos bahwa pakaian berkaitan dengan tindakan pelecehan.

 Pada akhir 2018, analisis Survei Pelecehan Seksual di Ruang Publik yang diikuti lebih dari 62.000 orang membantah paradigma tersebut. Menurut hasil survey, justru mayoritas korban pelecehan seksual tidak menggunakan baju terbuka, melainkan celana/rok panjang (18%), hijab (17%), lengan panjang (16%). Jadi berdasarkan survey tersebut, seharusnya tidak ada ungkapan ungkapan tidak masuk akal yang menyudutkan perempuan dan menjadikan cara berpakaian korban sebagai kambing hitam.



Bahkan fakta lainnya adalah korban pelecehan seksual juga anak – anak. Jika pakaian atau tubuh terbuka yang menjadi permasalahan adanya pelecehan, bukankah jelas bahwa anak – anak belum cukup memiliki sesuatu yang “menggoda” hingga dilecehkan? 

Dari fakta – fakta diatas seharusnya kita berhenti menjadi masyarakat yang melindungi pelaku pelecehan seksual dengan dalih tidak ada asap kalau tidak ada api apalagi dengan analogi ngawur kucing dan ikan asin.

 Jadi satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk memerangi pelecehan seksual adalah, lawan!

3 comments