Bagaimana Rasanya Menjadi Shadow Teacher?

 

     Dalam hidup, kita tidak pernah banar benar tau dimana semesta akan membawa kita lebih jauh. Nanti, lusa atau lima tahun yang akan datang kita tidak pernah mendapat clue, dimana kita akan ditempatkan dan keadaan seperti apa yang harus kita hadapai.

Aku adalah orang yang selalu percaya, bahwa setiap kejadian yang datang padaku tidak hadir begitu saja tanpa meninggalkan pelajaran. Meski dengan menangis aku dalam menghadapinya, semoga sampai berapa pun usiaku nanti aku tetap mempercayai bahwa apa yang dialami manusia memang sesuatu yang harus ia lalui dan memiliki kebaikan-kebaikannya sendiri.

Keterlambatan wisuda, mungkin alasan pertama paling masuk akal mengapa aku sampai titik ini. Ya, sudah seperti janjiku pada diri sendiri dulu. Kalau aku harus lulus lebih dari delapan semester, aku harus mandiri secara finansial tanpa membebani siapapun.

Jadi hari ini, aku sampai dititik ini.

Sebenarnya, keinginan menjadi guru mulai terbersit sejak SMA. Tetapi selalu ada keraguan - keraguan yang mengikatku. Apakah jika menjadi guru, aku bisa menghadapi sifat bosenanku terhadap rutinitas? Ya jujur saja, aku tipe orang yang gampang gabut jika yang aku hadapi hal itu itu saja.

Hingga suatu hari, aku melihat lowongan pekerjaan di suatu sekolah swasta cukup terkenal di Kota Metro. Saat itu seingatku ada tiga posisi yang dibuka, yakni asisten guru, guru TK dan shadow teacher.

"Apa yang menjadi takdirmu, tidak akan melewatkanmu," sebuah motivasi paling greget, yang selalu saja aku pakai setiap kali aku mencoba sesuatu. Ya memang agak ragu saat mendaftar, karena belum lulus kuliah. Haha.

Tapi who knows kan

Setelah kupikir-pikir, yaiya. Kalau tidak dicoba, tidak tahu kan? Kalaupun tidak diterima, setidaknya aku sudah punya pengalaman melamar pekerjaan, nyiapin CV, portfolio dan pengalaman tes wawancara dan lain lain.

Posisi yang aku pilih tanpa berpikir lama adalah menjadi shadow teacher. Setengah tahun terakhir aku memang tertarik dengan isu inklusivitas dan ranah yang belum pernah aku pelajari sama sekali adalah ranah disabilitas.

Jadi hari ini, aku seorang shadow teacher.

Ya, shadow teacher adalah guru bayangan. Guru pendamping bagi anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan hak yang sama dalam akses pendidikan bersama teman - teman sebayanya yang lain di sekolah.

Di sekolah, ada beberapa anak berkebutuhan khusus dengan diagnosa yang berbeda - beda. Setiap shadow teacher mendampingi satu ABK. Anak yang belajar bersamaku dengan diagnosa mental defective yakni gangguan intelektual dengan ditandai intelegensi dibawah rata - rata. Ya, dalam mempelajari hal baru ia sedikit lebih lambat dari teman teman seusianya.

Tapi, ada hal lain di titik ini yang mengajariku banyak pemahaman baru. Bahwa, setiap anak itu unik. Setiap anak memiliki keistimewaannya tersendiri. Barangkali, untuk anak seusianya (ABK yang aku dampingi) seharusnya ia sudah mampu menulis angka satu sampai sepuluh dengan lancar. Barangkali, ia harus sudah mampu menulis abjad a sampai z dengan lancar.

Tapi, ada keistimewaan lain yang aku lihat darinya. Ia memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Ia begitu penolong dan mimiliki jiwa pemimpin. Meskipun menit sebelumnya ia marah, setelahnya ia akan cepat lupa dan kembali mengajakku mengobrol seperti biasanya. Berbeda sekali dengan sifat keseharianku yang ambekan dan senang marah berlama lama. Ya, tidak dipungkiri aku belajar banyak darinya.

Aku benar benar tidak tahu maksud Tuhan, mengapa aku diberi kesempatan di titik ini. Aku tidak pernah tau, sampai kapan Tuhan menitipkan amanah ini. Tapi hari ini aku benar benar menikmatinya dengan bahagia.

Oya, bohong sekali jika aku tidak pernah merasa capek dan ruwet. Bohong sekali kalau aku tidak pernah dibuat marah. Bohong sekali kalau aku tidak pernah mengeluh. Tapi, kurasa itu semua wajarkan?

Hari ini dia sudah biasa mengatakan kata terimakasih, tolong dan maaf. Kamu tahu bahagianya? Benar - benar tidak bisa dijelaskan kata - kata, aku hanya tahu setiap kali anak tersebut mengucapakan kata itu hatiku menghangat.

Setiap kali aku melihat anak tersebut tersenyum kepadaku, setiap itu pula hatiku ikut tersenyum. Aku jadi teringat tulisan Mr. Dedi tentang doa - doa dan harapan beliau pada setiap anak - anaknya, baik anak biologis maupun anak didiknya. Dikutip dari blog beliau, 

Ya Allah, Engkaulah yang mampu menyehatkan raga mereka, yang mampu mencerdaskan otak mereka, dan yang mampu memperindah akhlak mereka. Dan, di atas segalanya, Engkau Maha Penyayang dan Maha Pengabul doa.

Bila waktu memihak, saya ingin menyaksikan kehebatan mereka. Bila ada umur, saya ingin diperkenankan melihat mereka melakukan apa yang tak pernah bisa saya lakukan. Dan bilamana waktu tak memihak atau umur ini tidak sampai, cukuplah bagi saya mereka mengetahui satu hal: bahwa saya pernah menaruh harapan besar untuk melihat mereka menjadi orang-orang kuat, cerdas, dan mencintai Tuhan-Nya.

Ya. 

Aku bahagia ada dititik ini. Dimasa depan, entahlah apa yang disiapkan Tuhan. Tapi, semoga saja tulisan ini selalu jadi pengingat, bahwa Tuhan tidak menempatkanmu pada suatu keadaan dengan kesia-siaan.


4 comments

  1. Baguss bangett tulisannya. Semangat mbak Mayyyyy❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaa ... Terima kasihh. Semangat menulis jugaa anak baikk 🧡

      Hapus
  2. Menginspirasi bgt, jd makin pengen berprofesi sbg shadow teacher

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasihh. Actually, ada banyak hal manis selain inii heheee

      Hapus