Rasa Sepi dan Sosial Media, Apa Saja Dampaknya?



Selama pandemi covid - 19 banyak aktivitas yang mengharuskan dilakukan di dalam rumah. Mulai dari sekolah beralih menjadi daring, work from home dan lain - lain. Kebahagian - kebahagiaan yang biasa didapatkan melalui kegiatan diluar rumah seperti berbelanja, berkumpul bersama teman, menghadiri pesta harus ditunda terlebih dahulu. Tentu saja keadaan seperti itu memunculkan pelbagai perasaan tidak nyaman seperti  jenuh, bosan bahkan kesepian. Pada akhirnya mereka mencari aktivitas pelampiasan untuk menghilangkan perasaan perasaan tersebut.

Untuk melepaskan rasa sepi dan bosan kebanyakan orang mengalihkannya dengan berselancar didunia maya. Sebenarnya kegiatan seperti ini tidak hanya terjadi selama pandemi, jauh sebelum adanya virus corona ketika sosial media sudah gencar digunakan, masyarakat memang lebih senang melakukan aktivitas ini untuk mengusir rasa bosan dengan harapan akan mendapatkan hiburan dan memperoleh kebahagiaan dari sana.

Tapi sadarkah? Jika diibaratkan rumah, sosial media seperti ruang tamu bagi pemiliknya. Facebook, Twiteer, Instagram hanya akan menampilkan hal - hal prestise dari pemilik akun. Beranda dan feed sosial media akan jauh dari aib dan hal buruk, seperti kita yang selalu berusaha menampilkan 'sisi paling rapi' ruang tamu di rumah kita.

Sehingga apa yang terjadi? Berselancar di sosial media dan melihat kehidupan orang lain yang diatur sedemikian rupa sehingga terkesan sempurna, lewat feed yang cantik dan manis, lewat tulisan penuh kebanggaan, tulisan tentang prestasi ini dan itu. Semua disulap dengan sempurna, tanpa diizinkan aib berada disana.

Kegiatan yang sebelumnya dimaksudkan untuk menghilangkan sepi dan kebosanan berubah menjadi aktivitas membanding-bandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Melihat orang lain tampak lebih bahagia lewat foto foto yang tertawa sumringah, kemudian membandingkan titik diri yang tengah kesepian dan bosan. Pada akhirnya berlama - lama di sosial media hanya membuat kita merasa semakin lelah dengan kehidupan.

Kegiatan membandingkan diri dengan orang lain jika terjadi terus menerus tentu saja memiliki banyak dampak. Akan lebih baik, jika dampak yang ditimbulkan adalah rasa semangat terpacu semakin produktif. Misalkan lebih giat belajar, bekerja atau menghasilkan karya. Tapi nyatanya lebih banyak orang setelahnya lebih bersikap pesimis, tidak percaya diri dan melankolia. 

Apasih melankolia? Sigmund Freud dalam Mourning and Melancholia (1917) mengatakan bahwa melankolia adalah perasaan dimana orang - orang merasa sulit mengidentifikasi bentuk kesedihan yang mereka rasakan. Mungkin akan muncul pertanyaan pertanyaan seperti, "aku ini kenapa? Aku sedih karena apa?" dan semacamnya. Sehingga tak jarang ia akan merasa menjadi manusia yang hampa. Bahkan mereka akan membenci dan mengutuk diri mereka sendiri. Hal tersebut hasil dari perpaduan perasaan bersalah pada hidup dan merasa tak berdaya.

Sebenarnya melankolia adalah momen reflektif karena bisa membuat seseorang lebih mawas diri dan mengenal dirinya sendiri lebih jauh. Tetapi hal tersebut tak jarang justru membuat seseorang terjebak dalam keadaan depresi. Tentu jika sudah begitu, perasaan - perasaan seperti itu tidak bisa sekedar di "gapapa" in.

Sebenarnya untuk meminimalisir hal semacam membandingkan diri dengan orang lain, merasa rendah diri, tidak berharga bahkan depresi bisa dimulai dengan berusaha memilah dan memilih aktivitas yang akan kita lakukan. Mulai dari hal terkecil, followlah akun akun yang benar bermanfaat. Memperkecil bahkan men nol persenkan aktivitas membandingkan diri secara negatif setelah kita membuka akunnya. Install aplikasi seru yang bisa menambah daya kreativitas. Seperti aplikasi teka teki silang atau aplikasi belajar lainnya.

Jika bosan dengan gawai, dapur selalu bisa menjadi tempat eksperimen paling menantang. 
Ada satu hal lagi aktivitas yang bisa membuat seseorang menemukan soul healing. Ya, membaca. Bahkan sebagai buktinya, di pintu masuk Perpustakaan Thebes terdapat prasasti  yang berdiri kokoh dan bertulis: tempat penyembuhan jiwa.










2 comments