Untuk Jason, Pemilik Mata Penuh Cinta



Itu pertengahan September, saat aku menemukannya terduduk sendirian dengan kaki yang dikrubungi semut. Aku yang sedang tergesa - gesa akan rapat, memilih menyempatkan diri sebentar untuk menyapanya. 

"Hai," ucapku. Sapaan awal yang kubuat seramah mungkin untuk memastikan ia baik baik saja. Dia mendongak menatapku. Astaga, mata bulat dan tatapannya benar benar hangat. Wajah dan badannya yang lumayan berisi memancarkan semangat. Lalu apa yang ia lakukan? Terduduk sendirian di pojok bangku usang dengan kaki semutan. 

Kupastikan sekali lagi. Aku duduk jongkok di depannya untuk mengecek keadaanya. Ya ampun, aku sudah seperti pemain film indosiar bukan? Yang sok-sokan peduli sama kucing jalanan. Risih sekali aku memikirkan hal itu. 

Kuelus kepalanya. Eh,  dia menempelkan kepalanya pada tanganku. Agresif sekali dia, seperti sudah lama tidak mendapat belaian. Dan kau tau apa? Ternyata kedua kakinya lumpuh tidak bisa digerakkan,  sepertinya ia korban perasaan eh korban tabrak kendaraan jalanan.

Matanya tetap teduh mengisyaratkan kata "aku baik - baik saja" meski aku tahu kenyataannya tidak begitu. Selain kakinya yang sudah sekarat, sekitar anusnya sedikit mengeluarkan organ dalam. Apasih, keplenyet pokoknya.

Aku, perempuan yang panikan itu, mengalami panik yang overload. Sungguh, dengan sempatnya aku berfikir kenapa tidak ada pangeran berkuda putih yang menawarkan bantuan. Lalu terbang dengan kepakan sayap menuju puskeswan. 

Aku menatap sekeliling tidak ada penjual makanan yang cukup baik untuk Si Kucing. Ada sih, tapi tukang batogor dan cakwe. Tapi sepertinya Si Kucing bakal ogah - ogahan makan makanan yang tidak ada didunia perkucingan itu. Akhirnya aku berlari ke Jusi Mart, buat nyari jodoh. Eh, beli sosis. 

Sueran deh, aku sedikit kecewa dengan jodohku saat itu. Bisa - bisanya ia tidak datang dengan kesaktiannya, padahal aku sangat butuh bantuannya. 

"Mba ada sosis nggak?" tanyaku pada Mbak Jusi. 

"Nggak ada"

"Apa ya Mba,  makanan untuk kucing?"

"Hm,  apaya" 

Aku menunggu. Tapi yaelah, Si Mbak lama mikirnya. Tidak sabar, aku keluar dari Jusi Mart memutuskan tetap pergi ke sekretariatan. Sampai sana, ternyata hanya ada dua manusia. Emang yang lain kayak nggak punya dosa, padahal jam rapat udah kelewat. 

"Ky,  anterin Mbak yuk," ucapku pada salah satu manusia. 

"Kemana Mba?" 

Andai aja, Si Rizki pacarku pasti aku teriak gini : emang kalo anterin kemana harus nanya kemana? Ah, sayangnya dia bukan pacarku dan dia perempuan. Baiklah, karena dia manusia maka setiap tanya aku ada kewajiban menjawab. 

Akhirnya aku dan Rizky sampai di bangku koyak dekat halte dan mata kucing itu tetap sama. Sungguh. Mata itu benar benar membuatku berdebar. Mata itu tenang, teduh dan penuh pancaran kebahagiaan. Perasaanku sudah bercampur aduk. Sedih. Malu. Pun merasa seperti di bully habis - habisan sama Si Kucing. 

Gimana enggak? 

Kaki kucing itu sungguh nggak baik baik aja. Kedua kaki belakangnya lumpuh total, ia bergerak dengan menyeret kedua kaki belakangnya. Organ dalam perutnya hampir mencolot keluar lewat anus. Dilihat dari lukanya, ia tertabrak sudah lebih dari sehari. 

Tapi bisa - bisanya dengan keadaan seperti itu ia tetap setenang itu? Bisa - bisanya wajahnya tetap sesumringah itu? Bisa -bisanya meski sakit dan kepayahan ia tidak merengek pada orang yang lalu lalang. Ia diam. Tak mengeong. Tak mengaduh, pun mengeluh. Sesekali ia hanya berpindah posisi untuk menghalau semut semut disekitarnya. 

Matanya memberiku ceramah : kenapa selama ini aku banyak mengeluh? Kenapa aku tidak bisa setenang itu menjalani hidup, toh hidup dan mati diluar aturan manusia. Kenapa aku masih saja merengek saat dalam kesedihan dan kesempitan pada manusia? Kenapa menguatirkan banyak hal, toh kalaupun ditakdirkan untuk kita ya pasti untuk kita. Kenapa aku tidak bisa segembira itu menjalani hidup? Ya Tuhan. 

Kubawa kucing itu ke kosan dengan kantong kresek. Kuletakan ia didalam kamar, kalau diluar takut dibully oleh kucing penghuni kosan yang bar - bar. Ku buka tiga sosis buat Si Kucing padahal perutku sendiri perih belum sarapan. Akhirnya,  aku nyomot separuh karna pengen. 

Malamnya, setelah berdebat panjang dengan Rizki akhirnya kunamai Si Kucing : Septian Jason. Maafkan ya Cing, padahal kita sama sama belum tau kamu calon fuckboy atau fuckgirl. Tapi kunamai kau nama kelaki-lakian,  patriarki sekali ya. Meskipun setelahnya aku lebih senang memanggilmu Jes. 

Beberapa hari dikosan Jes tetap saja malas makan. Padahal aku sudah mencoba memberinya wiskas sampai ikan asin. Puncaknya badannya mulai melemah dan luka dikakinya kian membusuk. Sejujurnya,  sejak awal aku ingin membawanya ke dokter. Tapi apalah dayaku saat itu, mahasiswa pengangguran. Estimasi biaya ke dokter,  sangkaku 250 - 300ribuan. 

Aku mulai koyak saat Jes menatapku lesu. Tatapan itu seperti aku diperlihatkan pada dosa - dosaku. Aku sudah tidak kuat, akhirnya aku memutuskan meminta bantuan teman untuk mengantarku ke puskeswan. Ternyata menurut informasi temanku, di puskeswan cuma bayar 15rebuu. 

Saat itu kilas baliknya. Sepanjang perjalanan kepalaku riuh, betapa kejinya aku. Tuhan menitipkan satu amanah padaku, menitipkan makhluknya yang sedang tidak baik dan aku menyia-nyiakannya. Tuhan hanya menitipkan satu makhluk, hanya satu. Untuk kurawat dan dicintai. Tuhan tidak terbatas memberi nikmat sepanjang umurku, kenapa dengan serakahnya aku masih memikirkan 250-300ribu untuk mengobati Jes?

Maaf beribu-ribu kali untuk Jes. 

Setelah antri sekian lama, Jes segera dibersihkan. Luka dikaki Jes sudah penuh ulat, kacau sekali perasaanku saat itu. Kuharap kalian, dimanapun berada jangan melakukan kesalahan seperti aku ini. Sungguh, penyesalan akan datang pada bagian akhir. 

Jes keluar dengan kedua kaki belakangnya yang basah. Dokter bilang ada beberapa bagian yang harus dijahit. Kau tau biayanya benar - benar 15ribu, itu membuatku malu dihadapan Jes. Semenjak itu Jes bertingkah aneh. Ia takut dengan manusia,  ia takut denganku. Sorenya, Jes muntah berbusa. Ku pikir mungkin ia menjilati bekas obat dikakinya. Aku tidak tahu tapi badannya sudah benar benar kaku. 

Sepanjang malam itu aku malu pada Tuhan. Ingin sekali aku bersembunyi dimanapun asal Tuhan tidak menemukanku. Aku merasa gagal menjadi manusia utuh. Aku gagal mengurus satu makhluk Tuhan. Dan Allah, sungguh Maha Besar Engkau mampu merawat dan mengurus semua makhluk di alam ini. 

Paginya, Jes sudah tidak bernyawa. Kulepas ia dengan senyuman. Terima kasih Jes, sudah ada dan pernah datang. Terima kasih untuk kearifan yang kau ajarkan padaku. Dan hari ini kupikir, barangakali datangmu adalah bentuk romantis Tuhan mencintaiku lewat kehilangan.

Dengan Hangat,

Perempuan yang menemuimu di pertengahan September ♡





4 comments

  1. Uuuuh sedih banget 😭😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah padahal udah tak buat genre se-komedi mungkinn :v

      Hapus
    2. Ouhhh... mba... pengen nangis...😣

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus