Pernikahan Dalam Kepalaku
”Jadilah pemimpin, jangan jadi pengikut saja,”
“Jadi perempuan tidak usah neko – neko. Sederhana saja,”
Kalimat diatas adalah ucapan yang sering diingatkan orangtua padaku. Pertama, itu ucapan Bapak kalau aku baru selesai bercerita banyak hal tentang pendidikan, rencana, atau impian – impianku. Sedang yang kedua, itu dari ibuku. Ucapan Bapak dan Ibu terlihat bersebrangan bukan, hehe. Tapi bagiku, mereka sepasang paket komplit yang memang ditakdirkan Tuhan untuk saling melengkapi.
Bapak adalah laki – laki visioner dan pemimpi sejati. Meskipun umur Bapak sudah lebih dari setengah abad, tapi semangat mewujudkan mimpi – mimpinya bisa sekali diadu dengan pemuda – pemuda sekitar rumah, bahkan mahasiswa. Dua sifat Bapak itu melekat erat padaku. “Kalau punya kemauan, ya harus dapet!” Bedanya kalau bapak usaha sendiri, kalau aku kadang masih banyak merepotkan orang lain, ehee.
Ya, lewat bapak jiwa memimpikan hal – hal besar itu diturunkan dengan apik padaku. Kemudian Ibu, perempuan paling sederhana itu terkadang menjadi kendali untuk semua ambisi bapak yang terkadang terlewat berlebih. Ibu, perempuan paling tidak neko – neko itu adalah pendengar paling baik, tempat bapak pulang membagikan mimpi – mimpinya. Entah berakhir dengan Ibu menguatkan mimpi atau omelan Ibu karena dirasa mimpi Bapak tidak realistis, bagiku mereka adalah pasangan paling melengkapi.
Ibu, adalah perempuan paling sahaja dan selalu dipenuhi kasih sayang. Misal saja, tidak peduli habis berdebat panjang dengan bapak, beliau adalah satu-satunya orang yang rela tidak tidur semalaman untuk menunggu bapak pulang. Berbeda sekali dengan bapak yang ambekan.
Melihat mereka berdua, aku sering bertanya-tanya, mungkinkah dengan rumus seperti itu semesta bekerja? Yakni saling melengkapi. Atau memang sudah seharusnya dalam sebuah pernikahan, saling menerima utuh adalah pondasi? Entahlah.
Bagiku pernikahan adalah sesuatu yang kompleks, cukup rumit untuk aku gelar di kepala. Meskipun aku sering membanyol soal pernikahan kalau pas muak mengerjakan skripsi, tapi aku belum benar benar berpikir sejauh itu. Itu hanya perkataan serampangan. Untuk urusan jodoh aku memang hanya harus memasrahkan semua pada semesta kan? Yang bisa aku lakukan hanya request sajakan?
“ya Allah nanti jodohin aku sama laki-laki yang baik agamanya. Bisa ngajarin aku ngaji dan membaca kehidupan. Punya banyak duit hasil kerja kerasnya sendiri, bukan duit warisan. Sayang sama orang tua, sayang sama anak-anak dan kucing. Sama, pengen yang tinggi dan kurus, seneng olahraga. Mau diajak gerak juga, buat jadi manusia yang manusia,”
Ya, yang aku lakukan menanggapi teman yang udah semakin banyak mengirim undangan. Jadi semakin sering meminta, dengan request-an yang sama. Ngerekuest semoga nanti sama-sama bisa menerima secara utuh. Karena pernikahan nggak cuma aku cinta kamu, tapi aku cinta keluargamu juga. Nggak cuma bilang aku mencintaimu pas si perempuan baru saja mandi, wangi dan makeupan, tapi bilang aku mencintaimu juga pas habis nyuci dan cuma dasteran, rambut berantakan.
Menikah bagiku menemukan rekan berbagi mimpi-mimpi, teman berdebat dan mengeluhkan hal-hal random di kepala. Menikah adalah menemukan pasangan yang akan menggenggam tanganmu erat saat kau takut, mengatakan semua akan baik baik saja. Tempat berbagi pelukan diantara gundah dan riuh kepala. Menikah adalah menemukan rumah, yang bisa kita bawa dalam langkah dan lari, dalam jatuh dan bangun. Juga, menikah tentang menemukan seseorang yang mau bersama-sama tumbuh dan belajar menjadi manusia yang semakin manusia.
Terlalu panjang? Entahlah, semoga aku punya cukup kebaikan agar request-an panjangku itu diaminkan semesta dan dikabulkan Tuhan. Dan semoga nggak ada netizen yang komen, niqaah sana sama malaikat, wkwk.
Aku kadang berpikir, apakah aku nanti bisa cukup sabar seperti Ibuk jika melihat suami dan anak-anaknya suka geletakin barang penting sembarangan? Atau apakah aku cukup pemakluman, jika laki-lakiku nanti sering kelupaan meletakkan barang? Entahlah. Hal hal kecil seperti itu jika terjadi setiap hari, sepanjang pernikahan, apakah akan baik-baik saja?
Ah, semoga saja nanti, kita sama sama punya stok pengertian dan kasih sayang yang tidak terbatas. Sepanjang usia pernikahan, sebanyak itulah perasaan-perasaan semacam itu harus tetap diproduksi dan dipupuk. Hmm, ini cuma teori dari perempuan yang referennsinya cuma dari penglihatannya pada hubungan – hubungan di sekitarnya, sih. Kalau kalian yang sudah niqaah mau nambahin, ndak papa, hehe.


3 comments
Sebelum aku klik link ini, barusan bgt baca story org kayak gni “Ibadah terpanjang adalah menikah. Karena perjalanannya cukup panjang, artinya kita butuh bekal; ilmu,mental,financial, dan ke siapan. Jangan menikah karena ketergesaan apalgi kebelet ingin karena temen sudah duluan. Inget, jarak yang mau di tempuh itu jauh.
BalasHapus"Inget, jarak yang mau ditempuh itu jauh," heuheuu. Terima kasihhh bingkaiii cantiknyaa ♥️
Hapustulisan nya bagus kak, semangat nulis nya. love you.
BalasHapus